everything begining from here

everything begining from here

Sabtu, 06 November 2010

TENTANG MIMPI ITU

Mereka adalah Ella dan Nunu. Mereka dua sahabat yang tumbuh bersama, saling berbagi dan saling mengisi selama 15 tahun lamanya. Mereka masuk di sekolah dasar yang sama, sampai perguruan tinggi yang sama dengan jurusan yang sama. Dan inilah yang membuat mereka semakin dekat, karena mereka berdua memiliki kesamaan dan perbedaan yang unik. Ella yang lebih tua dua bulan dari Nunu selalu menjadi sosok yang senantiasa menenangkan Nunu dikala Nunu merasa sedih dan tersisihkan. Maklum saja Nunu adalah gadis yang dibesarkan dari keluarga yang kurang harmonis. Kedua orang tuanya telah bercerai sejak Nunu berusia 12 tahun, dan kini kedua orang tuanya telah memiliki keluarga baru lagi. dan Nunu memilih tinggal di Maminya (panggilan Nunu untuk ibunya) dan kedua kakaknya tinggal dengan papi mereka. Seminggu sekali mereka saling mengunjungi satu sama lain. Tapi karena mami dan ayah tirinya kini telah memiliki anak akhirnya kini Nunu yang dianggapnya telah dewasa dan dapat mengurus keperluan sendiri. disaat itulah nunu sangat sedih karena merasa terabaikan.
Ahirnya Ella lah yang menjadi sasaran curhatnya. Tapi Ellah tidak sedikitpun merasa jenuh dengan keluhan Nunu. Dia malah sangat khawatir jika Nunu yang biasanya cerewet tiba-tiba menjadi pendiam. Keluarga Ellapun telah menganggap Nunu seperti keluarga mereka sendiri. mama dan papa Ella sangat sayang dengan Nunu, begitu pulan dengan adik-adik Ella yang sangat perhatian dan patuh dengan Nunu. Nunu merasa memiliki keluarga baru lagi. Ella selalu berusaha membuat nunu merasa tenang dengan keberadaannya disekeliling keluarga Ella dan meyakinkan dia bahwa dia tidak sendiri menjalani semua ini. 
Kekompakan mereka membuat orang-orang iri, jelas saja karena kalau dilihat persaingan mereka dalam mencetak prestasi sangat luar biasa, saling menjatuhkan satu sama lain dalam posisi perebutan peringkat sewaktu sekolah dulu, tapi itu tidak menjadikan mereka bermusuhan. Mereka berperinsip “kalau kesamaan yang kami miliki dapat menyatuhkan dan membuat kami kompak, maka perbedaan juga harus membuat kami kompak, karena kami adalah dua sisi koin yang tak terpisahkan!” prinsip yang bagus. Setidaknya tidak perlu menggunakan cara yang tidak sehat untuk menjadi pemenang. Begitu banyak kemiripan mereka dan seringnya mereka terlihat bersama membuat orang-orang beranggapan kalau mereka ini saudara kembar. Dan kalau mereka mendengar hal itu mereka hanya tersenyum dan berujar “maunya sih gitu….hehehehe.” Hobi mereka memang tidak sama, Ella yang suka membaca dan Nunu yang suka masak membuat mereka selalu menghabiskan waktu yang lama bersama. Setelah Nunu mengajarkan Ella memasak, hasil masakan itu mereka santap sambil membahas buku-buku yang menarik. Selain memasak dan membahas masalah buku-buku yang baru saja mereka baca, mereka berdua juga punya kebiasaan yang lain, berwisata kuliner menyicipi makanan-makanan yang ada dikota mereka. Setelah itu mereka mencari tempat yang nyaman untuk duduk lama dan menyeruput segelas coklat hangat dan membahas tentang impian-impian masa depan mereka. Dan inilah impian mereka: 
1. Nunu yang ingin memiliki rumah makan dengan konsep pedesaan dan Ella yang ingin memiliki tempat baca dengan konsep taman, yang akhirnya mereka sepakat membuat taman baca yang ada cafenya. Jadi pengunjung yang datang bisa merasakan menu-menu lezat yang disajikan oleh Nunu dan membaca buku-buku yang menarik yang ditawarkan oleh Ella. 
2. Selain itu Nunu ingin membuat rumah singgah untuk para anak jalanan, dan Ella ingin membuat sekolah gratis yang kental dengan nuansa keagamaannya. Dimana seluruh siswa diperbolehkan untuk menentukan sendiri metode pembelajaran yang mereka suka. Akhirnya mereka sepakat membuat “asrama rumah singgah.” 
3. Dan memiliki perpustakaan pribadi yang besar dan memiliki ribuan koleksi buku pelajaran maupun pengetahuan umum lainnya adalah impian Ella selama ini, dan Nunu ingin membuat took buku terlengkap dengan harga yang murah. 
4. Dan impian mereka yang terakhir adalah menjadi wanita karir yang sukses, iu rumah tangga yang ‘is the best’ dimata suami dan anak-anak mereka dan menjadi hamba Allah yang taat. Itulah daftar impian yang mereka buat, dan selalu mereka bahas ketika menghabiskan waktu bersama. 
Ditengah-tengah membahas impian itu mereka tak jarang tersenyum kecil membayangkan ketika semuanya mereka gapai. Dan dalam diam mereka meng-AMINi. Tentunya mereka bukannya dua perempuan yang doyan bermimpi dan membual saja. Tapi mereka telah menyiapkan rancangan dan langkah-langkah untuk menggapai impian mereka itu. “yang penting kan kita sudah berusaha dan berdo’a, bersabar dalam melakukan usaha, selebihnya yah tawakkal deh…” ujar Ella dan di sambut dengan anggukan kepala Nunu yang sangat mantap. Selain mereka menjadi perhatian teman-teman cewek mereka, Ella dan Nunu juga menjadi rebutan teman-teman cowok mereka dikampus, tapi mereka menolak dengan alasan mereka baru mau mengenal makhluk yang disebut laki-laki pada saat mereka telah lulus kuliah dan itupun pastinya mereka mencari sosok imam keluarga, bukan laki-laki yang hanya menjadi pagar betis saja. 
*** 
Mereka menyelesaikan kuliah mereka 4 tahun pas. Setelah itu Nunu yang lebih dulu bekerja pada saat menyusun skripsi disalah satu perusahaan milik keluarga papinya kini diangkat menjadi kepala bagian HRD (Human Resource Development). Dan Ella yang sempat menjadi pengangguran selama 4 bulan lamanya akhirnya berhasil diterima disalah satu lembaga pemerintahan. 
Tiga tahun kini mereka memulai kehidupan baru mereka masing-masing, ini pertama kalinya mereka berpisah, tentunya waktu mereka untuk bersama akan berkurang, tapi ternyata itu tidak membuat mereka jauh, karena mereka tetap menjaga komunikasi dan selalu menyempatkan diri untuk makan siang bersama dan membuat jadwal rutin pertemuan mereka pada akhir pekan. Membicarakan tahap-tahap dan perkembangan apa saja yang mereka lakukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Waktu makan siang yang sangat singkat mereka biasanya membahas tentang kesibukan mereka masing-masing dan saling memberi semangat “Nu…kemarin aku keluar makan malam dengan kepala bagian keuangan dikantorku…” 
“oh ya…? Trus…trus…trus…gimana?” Nunu sangat antusias mendengar sahabatnya membawa kabar yang sepertinya baik siang itu. 
“yah gitu…dia mau ngelamar aku…tapi aku bilang aku mau menyelasaikan S2 dulu…” 
“waaahhh….dia bilang apa La…?” 
“katanya aku nikah saja dulu soalnya kalau sudah S2 lantas dilamar dia takut uang lamarannya mahal, soalnya aku perempuan bugis. Kan kamu tau sendiri perempuan bugis itu terkenal mahal kalau pendidikannya tinggi, huufft…” kelihatan wajahnya yang sangat bingung.
“hihihi…takut amat sih dia itu…emang dia belum S2 yah?” 
“udah kok…aku bilang kalau serius kamu nunggu, soalnya aku baru mau ambil S2…” 
“kamu sebaiknya bicarakan hal ini dengan orang tuamu La…lagian uang lamaran itu kan bukan syarat pernikahan, jadi itu kembali ke kesepakatan dari keluarga saja kok. Budaya memang penting kita libatkan dalam pernikahan, tapi jangan sampai kita mendahulukan adat istiadat dan mengenyampingkan yang menjadi syarat sahnya pernikahan, jangan sampai juga karena adat istiadat pernikahan yang merupakan ibadah sunnah menjadi batal…kalau bisa jangan ada yang kesampingkan dan di kecewakan…ngomong-ngomong namanya siapa? Orang mana sih?” 
“iya jgua sih Nu..benar juga…aku sih maunya semuanya tidak merasa dirugikan. aku juga sudah ada rasa dengan dia Nu…hehehe…tapi kalau bisa sih, aku tetap ambil S2ku, tetap berkarir dan dia tetap jadi calon imam aku. Hehehe…banyak maunya aku ini yah… "
“hahaha..dari dulu kaleee…” 
“namanya Adnan Bachtiar Nu…orang palbas…” 
“hah…apaan tuh palbas…? Baru baru dengar aku…ada toh nama kota itu. Aku kira cuma di Makassar aja palbas (pallu basa).hehehe”
“hehehe..Palu Banten Samarinda Nu….” 
“yeee….aku kira apa…” 
“iya…jadi papanya Banten, mamanya Palu dan dia sendiri lahir dan besarnya di Samarinda. Makanya aku sebutnya ‘palbas’ hehehe”
“kamu ini ada-ada aja…” 
“dia baik banget Nu..mama papa juga suka ama mas Adnan. Aku juga udah kenal akrab sama ortunya” 
“udah jangan pusing-pusing…kamu lanjut aja ambil S2 kamu. Aku yakin mama papa pasti mendukung, masalah uang lamaran yah kamu minta sama mama papa untuk menyerahkan ke kamu. Toh kamu sudah gede ini. Taulah mana yang baik. Mama papa kan orangnya demokratis. Jadi pasti mereka ngertilah…” 
“iya deh..tapi kamu temani aku ngomong ma mama papa yah…” 
“oke daahh….”
“dia dulu ambil S1-S2 dimana La?” 
“S1 nya di Fakultas Ekonomi UI dan S2 nya di Monash University Malaysia” 
“ckckckc…cakep daahh….”
“nah, loh sendiri gimana Nu…?”
“hahaha..jangan tanya…aku masih mau mengejar mimpi-mimpi kita”
“aku juga masih kale…tapi kan kamu juga harus ingat umur neng…” 
“iya juga sih..ada yang deketin aku…tapi belum srek akunya La…” 
"Lagaknyaaaaa..... sok jual mahal, kenapa?” 
“soalnya aku suka sama orang lain…tapi lagaknya itu loh La…seperti nggak butuh perempuan dalam hidupnya. Huh..kesel aku…eh ada lagi yang nggak diharap datang menye-menye ke aku untuk diterima…” “males deehhh….”
“hahaha iyaa La…makanya aku malas ah mikirinnya…” 
“namanya siapa Nu? Kamu kenal batu nisan itu dari mana sih?” 
“hahaha Ella kamu tega amat ngatain dia batu nisan…hahaha…namanya Didi Setyadi, anak teman papi aku. dia manager di perusahaan travel. Kalau yang deketin aku namanya Irvan kepala bagian pemasaran dikantor aku.” 
“habisnya, aku liat ekspresi kamu yang kayak gitu certain dia. Oh Didi…orang mana dianya?” 
“orang Kopajati…” 
“hah…?”
“hahaha…kombinasi Padang-Jawa Timur”
“whahaha…kamu nggak mau dikalah ah…” 
“dari dulu kaann…” 
*** 
6 bulan setelah mereka membahas tentang sosok laki-laki yang kini hadir mengisi hari-hari mereka, akhirnya Ella memutuskan untuk menikah dan langsung melanjutkan S2nya. Tapi dia memutuskan untuk menikah karena merasa tidak baik menjalani hubungan yang mengatas namakan perkenalan terlalu lama. Dia takut mengaburkan makna perkenalan itu sendiri. “kalau udah mantap mending dilaksanakan saja” ujarnya saat menerima lamaran Adnan. Dia takut menimbulkan cerita yang kurang sedap tentang mereka nantinya. Statusnya yang menjadi nyonya Adnan tidak lantas merubah semua impiannya dengan Nunu. Dia tetap dengan mimpi-mimpi itu, dan Adnan sangat mendukung. Dia bersedia membantu apa saja untuk mewujudkan impian Istri tercinta dan sahabatnya yang juda dia anggap seperti saudara sendiri. Dan bagaimana dengan Nunu? Dia masih berusaha menerima dengan sabar sikap Didi yang sangat dingin seperti gunung es itu. Dia percaya nanti bisa memenangkan hati laki-laki itu. Dan dia sudah menolak Irvan, sampai Irvan menikah dengan orang lain.

“Setiap pria dan wanita yang sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal dan bekerja setiap hari menuju visi jauh kedepan yang menjadi tujuan mereka. (Brian Tracy)”

_Miftah_

Tidak ada komentar: