Selepas SMA ku bertekad untuk melanjutkan studiku, ku ingin menggapai impianku. Tapi sayang kemauanku itu tidak dibarengi oleh restu dari kedua orang tuaku.bukan karena mereka tidak mampu membiayai kuliahku, karena kedua orang tuaku termasuk sangat mampu jika dilirik dari segi ekonomi, hanya saja jiwa dagang sangat melekat kuat pada diri mereka, oleh karena itu Orang tuaku lebih memilih aku membantu mereka untuk menjalankan usaha mereka. Dengan segala upaya kumencoba memberi penjelasan pada mereka, bahwa aku bisa mengambil sekolah bisnins agar bisa melanjutkan usaha mereka, bahwa ada perguruan tinggi yang bisa disesuaikan dengan jadwal kerja (kita memulai aktivitas kuliah pada malam hari) jadi aku masih bisa membantu mereka pagi harinya, tapi tetap saja mereka pada pendirian mereka, bahwa “tidak ada gunanya perempuan bersekolah tinggi-tinggi, toh ijazahnya akan berakhir di dapur!” ironis memang mengingat pikiran kedua orang tuaku sesempit itu.
Remuk rasanya hatiku ketika harus menerima kenyataan bahwa cita-citaku harus kandas. Mereka tidak bersedia membiayaiku jika aku tetap nekat mendaftar diperguruan tinggi. Padahal nilai ujian akhirku diatas standar. Pupuslah harapanku, dorongan dan dukungan dari sahabat-sahabatku pun kini tidak ada artinya. Mereka juga tidak dapat berbuat banyak. Empat bulan lamanya aku mengikuti segala kemauan kedua orang tuaku. Hingga suatu hari ada seseorang yang datang menyatroni rumahku, dan disambut oleh kakakku. Setelah berbincang cukup lama, ternyata orang itu mencari tenaga kerja yang siap dikirim ke luar negeri. Kakakku pun mempunyai ide yang langsung dia utarakan padaku ketika orang tersebut pamit pulang.
“ma, kamu harus lanjut kuliah…kamu jangan mau dikendalikan oleh mama dan papa. Ini hidup kamu ma, kamu yang menjalaninya. Kamu sudah cukup dewasa untuk memutuskan jalan hidupmu, kamu sudah bisa membedakan hal yang baik dan yang kurang baik.”
“tapi ka’…biayanya dari mana? Tau sendiri mama papa nggak mau membiayai kuliahku…mengandalkan beasiswa saja???”
“orang yang baru saja pulang itu mencari tenaga kerja yang siap dikirim keluar negeri menjadi TKI. Kamu bisa mendaftar, kamu terikat kontrak selama dua tahun, disana kamu mengumpulkan modal untuk biaya kuliahmu…tidak ada alasan lagi untuk papa mama bisa melarangmu kuliah. Yah kaann….?!”
Ka’ Hana memaparkan secara detail. Jujur aku sangat ragu. Mengingat belakangan ini banyak TKI yang menjadi korban kekerasan oleh majikannya sendiri. Bahkan ada yang sampai meregang nyawa. Aku sedikit merinding membayangkan jika itu yang terjadi padaku.
“Ama sayang…kamu jangan takut, jika maksud dan niat kamu baik, insyaAllah kamu tidak akan mengalami hal-hal yang tidak kamu inginkan sayaang… ” lanjut kak Hana, seakan memahami kebisuanku.
Berhari-hari aku mempertimbangkan tawaran kak Hana, dan akhirnya akupun memutuskan untuk menerima tawaran itu. Tekat ku kali ini sudah bulat. Aku tidak perduli lagi akan menerima restu dari orang tua atau tidak. Kukabari sahabat-sahabatku tentang rencanaku itu.
“win…aku mau ke Jepang…”
“weiii….kamu dapat beasiswa ke Jepang yahh??”
Winta sangat girang mendengar itu.
“bukan win…..bukan beasiswa…”
“terus??? Emangnya orang tua kamu udah berubah pikiran? ”
Winta adalah salah satu sahabatku yang selama ini sering ku jadikan tempat curhat dan kita banyak menyusun rencana untuk masa depan kita. Tentang cita-cita dan mimpi-mimpi kita. Dia sangat senewen ketika tahu orang tuaku tidak mengijinkan aku untuk kuliah. Pastinya dia sama sekali tidak pernah menyangka aku akan ke Jepang bukan dengan status pelajar.
“aku ke Jepang untuk kerja win…..”
“maksudnya??? Kamu ikut sama siapa? Kamu jangan asal ikut yaahhh….pikirin baik-baik.”
“bukan ikut dengan siapa-siapa…tapi aku sebagai TKI…”
“what????????????? Gila nih anak…kamu abis jatuh dimana sih? Tiba-tiba ngambil keputusan kek gini? Nggak…nggak…nggak ada yang kayak gituan yah ma…kamu ini apaan sih…jangan gila dehhhh…”
“sudah kuduga…kamu pasti nggak bakalan ngijinin aku, anak-anak yang pasti juga bereaksi yang sama kayak kamu…tapi tolong, kali ini kamu ngedukung aku. Seperti biasa…yaaaahhhhhhh…”
“jadi anak-anak yang lain belum pada tau? Ma…emangnya ada apa sih? Kok sampai mutusin jadi TKI? Usaha orang tua kamu nggak kenapa-kenapa kaann??”
“ngga kok win…semuanya Alhamdulillah baik-baik saja…pokoknya yang aku butuhkan sekarang hanya dukungan kamu dan anak-anak yang lainnya…”
“ya udah…tapi kamu janji selalu kabari kami…kamu nggak boleh pulang dengan lecet sedikitpun. Kamu jaga diri…..”
Aku dapat merasakan betapa khawatirnya Winta terhadapku. Aku mendengar getir suaranya dari telepon. Ku tahu sahabatku itu tidak akan mengijinkan aku. Tapi akhirnya dia mau mengerti. Meskipun aku tidak menjelaskan secara jelas. Dia memang selalu mengerti kondisi sahabat-sahabatnya. Diapun telah berjanji akan membantuku untuk menjelaskan semua ini pada era dan aulya.
Dan kedua orang tuaku akhirnya menyetujui dan merestui aku untuk berangkat ke luar negeri menjadi TKI.
***
Enam bulan lamanya aku tidak pernah menghubungi winta, era dan aulya. Aku kena musibah, orang yang dulu mengaku mencari orang untuk dikirim keluar negeri itu ternyata penipu. Akupun sudah menggadaikan HPku untuk biaya mengurus berkas, karena aku sama sekali tidak ingin meminta bantuan orang tuaku jika menyangkut uang. Semua nomor telepon sahabat-sahabatku hilang. Tidak ada satupun yang tersimpan. Yang celakanya lagi, aku tidak menghapal nomor telepon mereka, meskipun kita sahabatan sudah cukup lama. Stress…itu yang kualami. Tapi aku tidak berputus asa, beberapa minggu kemudian ada tawaran yang sama datang lagi, tapi kali ini untuk ke Arab Saudi. Hanya tiga bulan aku mengurus berkas yang aku butuhkan. Dan akupun siap berangkat ke Saudi. Satu hal yang mengganjal pikiranku saat itu, winta, era dan aulya sama sekali tidak mengetahui hal ini. Tapi aku bertekad akan kembali setelah modalku terkumpul. “Semoga mereka tidak marah padaku” ujarku lirih. Aku yakin mereka adalah sahabat-sahabat terbaikku yang selalu memaafkanku. Pasti mereka mau mendengar penjelasanku.
Desember 2006
Aku telah tiba di Arab Saudi. Aku bekerja sebagai babysister, merawat anak Tn.Abdullah, majikanku. Majikanku itu adalah tentara yang memiliki anak yang mengalami cacat sejak usia 1 ½ tahun, ia tidak dapat menggerakkan dengan sempurna tangan dan kakinya, diduga Maith (nama anak itu)pada saat dia dilahirkan cecar dia kelebihan oksigen, dan untuk mempermudah aktivitasnya kedua orang tuanya membelikannya dua kursi roda khusus satu untuk mandi dan yang satunya lagi dia pakai untuk hari-hari menghabiskan waktunya. Berbagai cara telah ditempuh oleh orang Tn. Abdullah dan istrinya untuk menyembuhkan Maith, mulai dari therapy sampai operasi yang dilakukan di Riyadh.
Usianya kini 13 tahun, dan sangat miris melihat Maith harus menggunakan popok ukuran small untuk dewasa karena dia sudah tidak mampu lagi mengontrol ketika dia ingin buang air. Dia gadis yang manis, sering mengumbar senyum kepada orang lain, tidak perduli orang yang melihatnya sambil mencibir dia tetap tersenyum dan mempunyai semangat hidup yang tinggi Maith mempunyai daya ingat yang sangat kuat, kejadian yang telah terjadi 5 tahun yang lalu pun masih dapat dia ingat dengan jelas. Aku belajar banyak darinya. Meskipun tubuhnya cacat tapi dia tetap tidak ingin sepenuhnya bergantung pada orang lain, pembawaan yang ceria senantiasa membawa kehangatan dalam keluarga kecil itu. Selama mengenal Maith semangatku untuk menggapai impianku semakin besar, meski aku tahu bahwa untuk menggapainya itu tidaklah mudah. Banyak hal yang akan kita temui, tapi semua akan terasa mudah bila kita memiliki arah. “Seorang Maith saja bisa memiliki mimpi, kenapa aku yang secara fisik tidak kurang satupun tidak dapat memiliki mimpi?’ aku semakin yakin bahwa harapan itu masih ada untukku.
Begitu banyak pengalaman yang aku terima selama aku menjadi babysister di Saudi, perlakuan abi dan ummi Maith pun sangat baik. Mereka sangat mengharga profesiku. Menganggapku sebagai bagian dari keluarga kecil mereka. Aku merasa memiliki kerluarga baru lagi. Bahkan mereka menawarkanku untuk melanjutkan sekolahku sebelum aku kembali ke tanah air, dan mereka yang akan membiayai semua keperluan yang menyangkut pendidikanku. Tapi dengan berat hati aku menolak tawaran yang mulia itu, karena tidak dapat kupungkiri kusangat rindu dengan kedua orang tua, kakak, adik dan sahabat-sahabatku. Aku memutuskan untuk mengejar cita-citaku ditanah airku.
***
February 2009
“amaaa….”
Sontak Winta memelukku ketika aku secara tiba-tiba muncul dihadapannya. Aku dapat melihat kerinduan yang dia rasakan. Akupun sangat merindukannya. Merindukan celotehannya.
“gilaaa….kamu bertapa dimana??? Hampir tiga tahun aku dan anak-anak nyariin tau…?!hampir aja kita nyamperin rumah kamu di kampung, sayang aja, nggak ada yang tahu alamatnya….hahahaha ”
Dia masih sama seperti yang dulu, tidak berubah, cerewet dan tetap ceria. Setelah didesak menceritakan tentang alasan aku menghilang begitu lamanya, akupun menceritakan semuanya. Tak satu katapun keluar dari mulut Winta, tidak seperti biasanya, kini dia hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin dia tidak menyangka kalau aku akan terdampar sangat jauh hingga ke Arab Saudi. Dan lagi-lagi ia merangkulku.
Sebaliknya giliran Winta yang bercerita tentang teman-teman kami yang telah berhasil mencapai apa yang mereka inginkan, ada yang masuk kepolisian, sekolah keperawatan, ada juga yang sudah jadi guru, dan ada beberapa yang sudah menikah. Sempat terbesit rasa minder mendengar teman-temanku banyak yang berhasil sedangkan aku baru mulai meniti dari awal. Tapi semangat dari Era, Winta dan Aulya mengembalikan rasa percaya diriku. Mereka tetap menyayangiku.
“kamu berusaha mewujudkan mimpi-mimpimu, sesungguhnya yang berhasil adalah kamu ama. Kamu hebat, bisa melewati semua ini. Inilah keberhasilan yang sesungguhnya, karena kau menggapainya dengan usaha dan kerja kerasmu sendiri, kamu tetap sahabat kami, saudara kami, aku salut sama kamu ma…..jangan pernah merasa puas, kejarlah impianmu, dan tetaplah bersyukur Pada Sang Khalik…”
Pelajaran paling penting yang kudapatkan adalah sesungguhnya segala sesuatu yang kita anggap rumit hanyalah semata-mata karena kita telah jenuh dengan segala yang ada…kenapa kita tidak mencoba untuk membuka mata,hati dan pikiran kita dan lihat betapa luas kehidupan ini…dan begitu banyak hal-hal yang belum pernah kita jamah sama sekali…why u don’t try to do something new…sesuatu yang sama sekali belum pernah kita kerjakan?
Mungkin itu bisa membuat kita lebih cerah untuk menyongsong kehidupan yang tadinya kita anggap rumit ini…. Mulailah hari ini dengan semangat dan tekad yang didukung dengan aktualisasi akan segala rencana kita…..
*jika kau yakin sesuatu itu benar, maka lakukanlah. Dan Allah akan memperlihatkan kebenaran itu pada mereka yang telah meragukanmu*
¬_Miftah_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar