Ini
saatnya aku memantapkan langkahku menyambut masa depanku, aku harus melanjutkan
hidupku. Ku akui kau terlalu baik untuk dibenci tapi tidak pula terlalu
istimewa untuk aku tunggu. Penantian adalah suatu ketidak pastian, sedangkan waktu
terus saja bergulir, aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi untuk hal-hal
yang tidak jelas. Ku relakan kau berjalan pada ritmemu sendiri dan aku pun
berjalan pada ritmeku sendiri tanpamu. “no more tears Yoan….”
Sore
ini hujan masih setia menemaniku, seakan tau kesedihan yang baru saja aku
alami. Aku sangat menyukai hujan, hujan selalu membawa kesejukan untukku, tidak
perduli dengan sejuta keluhan orang-orang dengan turunnya hujan.
Nada
dering maroon 5 “won’t go home without you” melantun dari ponsel ku, ku melihat
dilayarnya “1 pesan baru diterima” dari Alvin. “hmm…dia memang selalu saja hadir
dikala aku sedang sedih, Alvin dengan kekonyolannya…” gumamku sesaat sebelum
membaca pesan darinya.
“hi….kalau
boleh nebak, kamu pasti lagi duduk diteras depan rumah sambil menikmati hujan
sore ini kan gadis pencinta hujaannn…. Hehehe. Udah…kamu jangan sedih terus
masih banyak hal-hal yang harus kamu pikirkan selain dia. Masih banyak
orang-orang disekeliling kamu yang butuh kamu sayangi dan kamu cintai selain
dia…oke!!! ^_^”
Aku
tersenyum membaca pesan singkat dari alvin, selama ini memang dia yang selalu
setia untuk mendengarkan cerita-ceritaku tentang Ian. Alvin juga yang
menghiburku saat aku lagi bermasalah dengan Ian. Alvin adalah saudara sepupu
Ian, dia termasuk saudara yang paling dekat dan tahu banyak tentang Ian, orang
yang pernah dekat denganku selama 3 tahun dan kemudian meninggalkanku tanpa
memberi kejelasan. Alvin sangat baik, meskipun kadang aku bertanya-tanya
mengapa dia begitu care denganku. Perlakuan dia padaku sangat berbeda dengan
perlakuan dia keteman-teman ceweknya yang lain. Banyak yang bilang dia itu tipe
cowo yang tidak terlalu ramah, pelit senyum dan malas menyapa terutama dengan
cewek. Tapi aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
***
“yoan…. ”
suara yang tidak asing ditelingaku, akupun berbalik arah mencari sumber suara
itu.
“hey..pulang
bareng yuk….aku mau ngajak kamu makan…mau??” kami memang tidak sering pulang
bareng karena Alvin adalah aktivis kampus dan tidak tiap hari dia punya waktu
untuk jalan bareng denganku, tapi dia selalu berusaha meluangkan waktu untukku
sekedar ngobrol dengannya.
“boleh vin,
emangnya kamu lagi nggak sibuk yah?”
“hari ini
nggak kok…” jawabnya singkat.
“ayooo….” Dia
menarik tanganku menuju parkiran mobil. Dalam perjalanan yang ada hanya
kebisuan, tidak ada percakapan, entah mengapa Alvin hari ini tidak banyak
bicara. Hanya lantunan lagu “Maliq & D’Essential-pilihanku” yang mengiringi
laju mobil Alvin menembus kemacetan siang ini. Ini adalah lagu kesukaan Alvin,
dia pernah berkata kalau lagu ini akan dia berikan untuk seseorang yang
sepesial. Tapi dia tidak pernah mengatakan siapa orangnya. Dua tahun
mengenalnya aku jarang mendengar dia menceritakan tentang kedekatannya dengan
seseorang. Apa karena aku yang terlalu banyak mengeluh dengannya? Sehingga dia
tidak pernah punya kesempatan untuk menceritakan kisahnya dengan orang yang
spesial baginya. Memang dia pernah mengatakan telah menemukan orang yang telah
mencuri perhatiannya. Tapi itu hanya diutarakannya sekali saja, setelah itu
tidak ada lagi pembahasan tentang gadis yang berhasil merebut perhatian Alvin.
“vin….aku
masih penasaran loh, siapa sih orang yang kamu bilang sepesial itu???” aku
memulai obrolan dengannya, tapi dia hanya membalasnya dengan senyuman tanpa
berkata apapun.
“yee…nih anak
malah senyum-senyum nggak jelas…” kataku sambil cemberut.
Tapi dia
tetap saja diam…
Setibanya di
salah satu tempat makan, kami langsung memesan makanan, seperti makan siang
kami sebelum-sebelumnya, aku masih dengan sapo tahu makanan kesukaanku dan
Alvin dengan capcai makanan kegemarnnya. Meskipun tidak ada yang berubah dari
kebiasaan kami tiap jalan bareng, tapi aku masih bingung dengan sikap Alvin
hari ini, “ada apa sih dengan anak ini??”gumamku dalam hati.
“hey..kamu
lagi ada masalah yah?”
“nggak
biasanya kamu kayak gini vin, diaaammm mulu…”
“lagi
sariawan nih..jadi malas ngomong…hihihi”
“kamu ini
udah kayak bajai vin, ngelesss aja kerjaannya…”
“hahahahaha…………………..”tawa
Alvin tiba-tiba pecah, membuat beberapa pengunjung di rumah makan itu berbalik arah
pada kami, sontak aku panik melihat ulah Alvin, kucubit lengannya agar dia mau
menghentikan tawanya itu. Meskipun sudah membuat aku malu bukan kepayang, aku
tetap senang melihatnya bisa ketawa lagi seperti biasanya.
“kamu tuh,
katanya sariawan, tapi ketawa kencang begitu…tadi sarapannya pake toa yah?”
“hehehe…iya
sorry….”
“Yoan…” sahut
Alvin dengan tatapan agak serius, tatapan seperti ini biasanya hanya pada saat
dia dalam forum saja. Kenapa hari ini dia menatapku seperti ini???
“kenapa?”
“aku mau
ngomong sesuatu…” serunya yang membuatku mengerutkan kening. Tapi baru saja dia
mau melanjutkan pembicaraannya, pesanan kami sudah datang, terpaksa aku harus
menahan rasa penasaran aku sampai makanan kami ini habis.
“kita makan dulu
yah…ntar aku cerita deh…” katanya sambil menyantap makanan yang dipesannya.
***
Hari
minggu, biasanya jika tidak ada janji dengan teman-temanku, aku hanya berdiam
dikamar menghabiskan waktu untuk menekuni hobiku membaca dan menulis beberapa
puisi aku memang sangat tertarik dengan dua hal ini. Tapi minggu ini berbeda,
aku memutuskan untuk berdiam diri dikamar karena sesuatu hal. Yah, tidak lain karena
obrolan aku dengan Alvin beberapa hari yang lalu, dia mengatakan kalau
diam-diam dia telah menyukai seseorang
yang telah lama ia kenal. Tapi dia belum mau menyebutkan namanya. Tapi entah
mengapa, aku merasakan sesuatu yang lain, di dalam dada ini…”ya Tuhan kenapa
aku ini? Tidak mungkin lah aku yang dimaksud oleh Alvin, tapi ciri-ciri yang
dia sebutkan mirip denganku, apa hanya aku saja yaahh yang keGRan…” aku terus
saja bergulat dengan perasaan ku sendiri. Alvin pernah mengatakan, “kamu harus memulai hidupmu lagi,
berhentilah menunggu didepan pintu yang sudah kau tahu telah tertutup untukmu,
jangan menyiksa dirimu, sedangkan disekitarmu banyak pintu yang terbuka lebar
dan menanti untuk kau masuki…itu yang harus kamu sadari Yoan….”
Aku tertegun,
“apakah yang dimaksud Alvin pintu yang ada disekitarku itu, dia???” Pikiranku
mulai kacau…aku tidak tahu persis apa yang sedang aku rasakan ini. Apakah aku
mulai suka dengan Alvin?
Sudah
tiga jam aku didepan meja belajarku tapi tak satu katapun yang mampu kutuangkan
hari ini. “aku harus menemui Alvin…” baru saja aku berniat meneleponnya,
tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara ketukan pintu.
“Yoan…ada
Alvin tuh, nyari kamu…” itu suara ibu,
“iya
ma….bilang tunggu sebentaaar….”
Perasaanku
makin tidak keruan mendengar namanya. Aku butuh waktu 10 menit untuk membuat
detak jantungku kembali stabil. Kumantapkan langkahku menuju ruang tamu dan
menemui Alvin.
“hi
vin…tumben kamu nyamperin aku hari minggu…ada apa nih?”
“Yoan aku mau
membuat pengakuannn…”
Deggg….tiba-tiba
aku merasakan kepalaku panas, mataku berkunang-kunang, dan napas sedikit
tersengal (ah..agak berlebihan, tapi yang jelas aku merasa aneh…)
“hemm…pengakuan
apa nih? ”
Tanyaku
berusaha menepis semua perasaan ini. Ku terus mencoba bersikap normal dihadapan
Alvin.
“aku ingin
menyatakan perasaanku kepada seseorang yoan…aku sudah lama menyukainya, tapi
dia seakan tidak menghiraukan perasaanku ini. Semua perhatian aku sepertinya
tidak dianggap, menurut kamu, apakah dia juga menyukai ku?”
Masih
berusaha mengatur napas, ku menjawab pertanyaan Alvin
“kamu kan
belum mencoba mengutarakannya langsung, kenapa kamu bisa menyimpulkan kalau
gadis itu tidak menganggap mu? Kamu belum dengar jawaban dari gadis itu
kan…kamu coba dulu utarakan isi hati kamu…”
Entah
mengapa aku sangat bahagia mendengar Alvin mengatakan hal tersebut. Aku merasa
dialah orang yang aku cari selama ini, dan bodohnya aku baru sadar sekarang.
Kenapa tidak dari dulu aku sadari bahwa ada orang yang begitu perhatian padaku
dan aku hanya terus menunggu di depan pintu yang tidak terbuka sama sekali
untukku.
“siapa
orangnya vin?” aku dapat merasakan detak jantungku berdenyut sangat kencang.
“viona…adik
kamu yoan…aku menyukainya, aku menyayanginya…”
Viona memang
sangat mirip denganku, ada beberapa kemiripan antara aku dan adikku itu,
kecuali satu hal, viona lebih terbuka dengan hal-hal baru ketimbang aku,
sehingga dia jauh lebih tegar dibanding aku. Vioana juga sangat akrab dengan
Alvin, adikku itu sering meminta Alvin untuk membantunya mengerjakan PR atau sekedar
menemaninya mencari beberapa referensi tugasnya.
Mendengar
pernyataan alvin kepalaku tiba-tiba pusing. Aku tidak lagi mendengar
kelanjutannya. Tatapanku kosong. Menerawang entah kemana. Tubuhku melemah,
ingin rasanya aku berlari menjauhi Alvin dan menumpahkan segala rasa ini, tapi
kakiku tiba-tiba saja kaku. “aku harus kuat…tidak boleh lemah..” ujar ku…
***
Seminggu
setelah peristiwa itu aku belajar tentang banyak hal, betapa selama ini aku
hanya hidup dalam duniaku saja, tidak memberi kesempatan untuk hal-hal yang
asing bagiku untuk masuk mengusikku. Aku tidak ingin mencoba sesuatu yang baru
karena kebencianku terhadap ketidak nyamanan. Sehingga jika aku mengalami
sesuatu hal yang tidak seperti yang aku inginkan aku sangat rapuh. Akupun
belajar tentang menghargai orang lain dan belajar memaafkan dan melepaskan apa
yang memang bukan milik kita. Semua kejadian yang menimpaku meniggalkan jejak
yang bermakna untukku. Masih banyak yang harus kubenahi. Aku sadar sebelum
menerima kasih sayang dari orang lain, kita harus lebih dulu menebar kasih
sayang. Dan apa yang kita dapatkan hari ini adalah buah dari apa yang kita
lakukan kemarin.
*Thank’s
untuk Mama, Viona dan Alvin yang sudah mengajarkanku banyak hal…. *
_Miftah_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar