everything begining from here

everything begining from here

Selasa, 02 November 2010

NO MORE TEARS, YOAN…


Ini saatnya aku memantapkan langkahku menyambut masa depanku, aku harus melanjutkan hidupku. Ku akui kau terlalu baik untuk dibenci tapi tidak pula terlalu istimewa untuk aku tunggu. Penantian adalah suatu ketidak pastian, sedangkan waktu terus saja bergulir, aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi untuk hal-hal yang tidak jelas. Ku relakan kau berjalan pada ritmemu sendiri dan aku pun berjalan pada ritmeku sendiri tanpamu. “no more tears Yoan….”
Pukul 16.12 wita                                                               
Sore ini hujan masih setia menemaniku, seakan tau kesedihan yang baru saja aku alami. Aku sangat menyukai hujan, hujan selalu membawa kesejukan untukku, tidak perduli dengan sejuta keluhan orang-orang dengan turunnya hujan.
Nada dering maroon 5 “won’t go home without you” melantun dari ponsel ku, ku melihat dilayarnya “1 pesan baru diterima” dari Alvin. “hmm…dia memang selalu saja hadir dikala aku sedang sedih, Alvin dengan kekonyolannya…” gumamku sesaat sebelum membaca pesan darinya.
“hi….kalau boleh nebak, kamu pasti lagi duduk diteras depan rumah sambil menikmati hujan sore ini kan gadis pencinta hujaannn…. Hehehe. Udah…kamu jangan sedih terus masih banyak hal-hal yang harus kamu pikirkan selain dia. Masih banyak orang-orang disekeliling kamu yang butuh kamu sayangi dan kamu cintai selain dia…oke!!! ^_^”
Aku tersenyum membaca pesan singkat dari alvin, selama ini memang dia yang selalu setia untuk mendengarkan cerita-ceritaku tentang Ian. Alvin juga yang menghiburku saat aku lagi bermasalah dengan Ian. Alvin adalah saudara sepupu Ian, dia termasuk saudara yang paling dekat dan tahu banyak tentang Ian, orang yang pernah dekat denganku selama 3 tahun dan kemudian meninggalkanku tanpa memberi kejelasan. Alvin sangat baik, meskipun kadang aku bertanya-tanya mengapa dia begitu care denganku. Perlakuan dia padaku sangat berbeda dengan perlakuan dia keteman-teman ceweknya yang lain. Banyak yang bilang dia itu tipe cowo yang tidak terlalu ramah, pelit senyum dan malas menyapa terutama dengan cewek. Tapi aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
***
“yoan…. ” suara yang tidak asing ditelingaku, akupun berbalik arah mencari sumber suara itu.
“hey..pulang bareng yuk….aku mau ngajak kamu makan…mau??” kami memang tidak sering pulang bareng karena Alvin adalah aktivis kampus dan tidak tiap hari dia punya waktu untuk jalan bareng denganku, tapi dia selalu berusaha meluangkan waktu untukku sekedar ngobrol dengannya.
“boleh vin, emangnya kamu lagi nggak sibuk yah?”
“hari ini nggak kok…” jawabnya singkat.
“ayooo….” Dia menarik tanganku menuju parkiran mobil. Dalam perjalanan yang ada hanya kebisuan, tidak ada percakapan, entah mengapa Alvin hari ini tidak banyak bicara. Hanya lantunan lagu “Maliq & D’Essential-pilihanku” yang mengiringi laju mobil Alvin menembus kemacetan siang ini. Ini adalah lagu kesukaan Alvin, dia pernah berkata kalau lagu ini akan dia berikan untuk seseorang yang sepesial. Tapi dia tidak pernah mengatakan siapa orangnya. Dua tahun mengenalnya aku jarang mendengar dia menceritakan tentang kedekatannya dengan seseorang. Apa karena aku yang terlalu banyak mengeluh dengannya? Sehingga dia tidak pernah punya kesempatan untuk menceritakan kisahnya dengan orang yang spesial baginya. Memang dia pernah mengatakan telah menemukan orang yang telah mencuri perhatiannya. Tapi itu hanya diutarakannya sekali saja, setelah itu tidak ada lagi pembahasan tentang gadis yang berhasil merebut perhatian Alvin.
“vin….aku masih penasaran loh, siapa sih orang yang kamu bilang sepesial itu???” aku memulai obrolan dengannya, tapi dia hanya membalasnya dengan senyuman tanpa berkata apapun.
“yee…nih anak malah senyum-senyum nggak jelas…” kataku sambil cemberut.
Tapi dia tetap saja diam…
Setibanya di salah satu tempat makan, kami langsung memesan makanan, seperti makan siang kami sebelum-sebelumnya, aku masih dengan sapo tahu makanan kesukaanku dan Alvin dengan capcai makanan kegemarnnya. Meskipun tidak ada yang berubah dari kebiasaan kami tiap jalan bareng, tapi aku masih bingung dengan sikap Alvin hari ini, “ada apa sih dengan anak ini??”gumamku dalam hati.
“hey..kamu lagi ada masalah yah?”
“nggak biasanya kamu kayak gini vin, diaaammm mulu…”
“lagi sariawan nih..jadi malas ngomong…hihihi”
“kamu ini udah kayak bajai vin, ngelesss aja kerjaannya…”
“hahahahaha…………………..”tawa Alvin tiba-tiba pecah, membuat beberapa pengunjung di rumah makan itu berbalik arah pada kami, sontak aku panik melihat ulah Alvin, kucubit lengannya agar dia mau menghentikan tawanya itu. Meskipun sudah membuat aku malu bukan kepayang, aku tetap senang melihatnya bisa ketawa lagi seperti biasanya.
“kamu tuh, katanya sariawan, tapi ketawa kencang begitu…tadi sarapannya pake toa yah?”
“hehehe…iya sorry….”
“Yoan…” sahut Alvin dengan tatapan agak serius, tatapan seperti ini biasanya hanya pada saat dia dalam forum saja. Kenapa hari ini dia menatapku seperti ini???
“kenapa?”
“aku mau ngomong sesuatu…” serunya yang membuatku mengerutkan kening. Tapi baru saja dia mau melanjutkan pembicaraannya, pesanan kami sudah datang, terpaksa aku harus menahan rasa penasaran aku sampai makanan kami ini habis.
“kita makan dulu yah…ntar aku cerita deh…” katanya sambil menyantap makanan yang dipesannya.
***
Hari minggu, biasanya jika tidak ada janji dengan teman-temanku, aku hanya berdiam dikamar menghabiskan waktu untuk menekuni hobiku membaca dan menulis beberapa puisi aku memang sangat tertarik dengan dua hal ini. Tapi minggu ini berbeda, aku memutuskan untuk berdiam diri dikamar karena sesuatu hal. Yah, tidak lain karena obrolan aku dengan Alvin beberapa hari yang lalu, dia mengatakan kalau diam-diam dia telah  menyukai seseorang yang telah lama ia kenal. Tapi dia belum mau menyebutkan namanya. Tapi entah mengapa, aku merasakan sesuatu yang lain, di dalam dada ini…”ya Tuhan kenapa aku ini? Tidak mungkin lah aku yang dimaksud oleh Alvin, tapi ciri-ciri yang dia sebutkan mirip denganku, apa hanya aku saja yaahh yang keGRan…” aku terus saja bergulat dengan perasaan ku sendiri. Alvin pernah mengatakan, “kamu harus memulai hidupmu lagi, berhentilah menunggu didepan pintu yang sudah kau tahu telah tertutup untukmu, jangan menyiksa dirimu, sedangkan disekitarmu banyak pintu yang terbuka lebar dan menanti untuk kau masuki…itu yang harus kamu sadari Yoan….”
Aku tertegun, “apakah yang dimaksud Alvin pintu yang ada disekitarku itu, dia???” Pikiranku mulai kacau…aku tidak tahu persis apa yang sedang aku rasakan ini. Apakah aku mulai suka dengan Alvin?
Sudah tiga jam aku didepan meja belajarku tapi tak satu katapun yang mampu kutuangkan hari ini. “aku harus menemui Alvin…” baru saja aku berniat meneleponnya, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara ketukan pintu.
“Yoan…ada Alvin tuh, nyari kamu…” itu suara ibu,
“iya ma….bilang tunggu sebentaaar….”
Perasaanku makin tidak keruan mendengar namanya. Aku butuh waktu 10 menit untuk membuat detak jantungku kembali stabil. Kumantapkan langkahku menuju ruang tamu dan menemui Alvin.
“hi vin…tumben kamu nyamperin aku hari minggu…ada apa nih?”
“Yoan aku mau membuat pengakuannn…”
Deggg….tiba-tiba aku merasakan kepalaku panas, mataku berkunang-kunang, dan napas sedikit tersengal (ah..agak berlebihan, tapi yang jelas aku merasa aneh…)
“hemm…pengakuan apa nih? ”
Tanyaku berusaha menepis semua perasaan ini. Ku terus mencoba bersikap normal dihadapan Alvin.
“aku ingin menyatakan perasaanku kepada seseorang yoan…aku sudah lama menyukainya, tapi dia seakan tidak menghiraukan perasaanku ini. Semua perhatian aku sepertinya tidak dianggap, menurut kamu, apakah dia juga menyukai ku?”
Masih berusaha mengatur napas, ku menjawab pertanyaan Alvin
“kamu kan belum mencoba mengutarakannya langsung, kenapa kamu bisa menyimpulkan kalau gadis itu tidak menganggap mu? Kamu belum dengar jawaban dari gadis itu kan…kamu coba dulu utarakan isi hati kamu…”
Entah mengapa aku sangat bahagia mendengar Alvin mengatakan hal tersebut. Aku merasa dialah orang yang aku cari selama ini, dan bodohnya aku baru sadar sekarang. Kenapa tidak dari dulu aku sadari bahwa ada orang yang begitu perhatian padaku dan aku hanya terus menunggu di depan pintu yang tidak terbuka sama sekali untukku.
“siapa orangnya vin?” aku dapat merasakan detak jantungku berdenyut sangat kencang.
“viona…adik kamu yoan…aku menyukainya, aku menyayanginya…”
Viona memang sangat mirip denganku, ada beberapa kemiripan antara aku dan adikku itu, kecuali satu hal, viona lebih terbuka dengan hal-hal baru ketimbang aku, sehingga dia jauh lebih tegar dibanding aku. Vioana juga sangat akrab dengan Alvin, adikku itu sering meminta Alvin untuk membantunya mengerjakan PR atau sekedar menemaninya mencari beberapa referensi tugasnya.   
Mendengar pernyataan alvin kepalaku tiba-tiba pusing. Aku tidak lagi mendengar kelanjutannya. Tatapanku kosong. Menerawang entah kemana. Tubuhku melemah, ingin rasanya aku berlari menjauhi Alvin dan menumpahkan segala rasa ini, tapi kakiku tiba-tiba saja kaku. “aku harus kuat…tidak boleh lemah..” ujar ku…
***
Seminggu setelah peristiwa itu aku belajar tentang banyak hal, betapa selama ini aku hanya hidup dalam duniaku saja, tidak memberi kesempatan untuk hal-hal yang asing bagiku untuk masuk mengusikku. Aku tidak ingin mencoba sesuatu yang baru karena kebencianku terhadap ketidak nyamanan. Sehingga jika aku mengalami sesuatu hal yang tidak seperti yang aku inginkan aku sangat rapuh. Akupun belajar tentang menghargai orang lain dan belajar memaafkan dan melepaskan apa yang memang bukan milik kita. Semua kejadian yang menimpaku meniggalkan jejak yang bermakna untukku. Masih banyak yang harus kubenahi. Aku sadar sebelum menerima kasih sayang dari orang lain, kita harus lebih dulu menebar kasih sayang. Dan apa yang kita dapatkan hari ini adalah buah dari apa yang kita lakukan kemarin.
*Thank’s untuk Mama, Viona dan Alvin yang sudah mengajarkanku banyak hal…. *
_Miftah_

Tidak ada komentar: