everything begining from here

everything begining from here

Selasa, 02 November 2010

SECRET ADMIRER

Kulirik jam yang sedang duduk dengan manisnya dimeja belajarku yang seakan mengatakan “kenapa lo… baru setengah tiga subuh neng…mimpi buruk yeee!” bukan hanya sekedar mimpi buruk, tapi ini lebih menyesakkan. Aku memimpikan Deva, senior yang setingkat diatasku. Cowok yang hanya menonjol pada prestasi akademiknya saja, selebihnya, dia sangat biasa-biasa saja. Aktivis kampuspun bukan. Tapi kenapa dia dengan jumawanya mengusik tidurku malam ini? Padahal sedikitpun aku tidak pernah memikirkannya, masalah kelas yang bertabrakan jadwalnya hari ini cukup menyita pikiran dan tenagaku. Terus…kenapa dia hadir dalam mimpiku??? Tiga bulan terakhir ini aku memang akrab dengannya.
Awal aku mengenal Deva pada saat konsultasi ke Penasihat Akademik (PA), ternyata PA kami sama. Dari situlah kami sering ngobrol ketika kami bertemu, pada akhirnya waktu aku bertemu dengannya di perpustakaan Deva meminta nomor HP aku. Komunikasi kamipun semakin lancar. Aku sering meminta bantuannya untuk persoalan kuliah. Dan sering berdiskusi berbagai masalah, dia memang cowok yang cerdas dan seru. Aku melangkah menuju dapur mencari camilan untuk menghilangkan pikiran yang tidak karuan karena mimpi konyol itu. Kudapati sebatang coklat dikulkas, sambil ngemil aku kembali kekamar dan meraih buku bacaan yang belum sempat aku tuntaskan Dan akhirnya, dueerrrrr….aku sukses tidak tidur sampai fajar muncul dengan anggunnya. “okee….aku hanya tidur sejam tadi malam, kuliah mulai jam 8 pagi ini sampai jam 3 sore, setelahnya aku masih harus menemani tere (adikku) ke toko buku. Setelah itu mengerjakan paper untuk tiga mata kuliah sekaligus dan persiapan persentasi… heeemmmmmmm ” aku menarik napas panjang mengingat kegiatan yang akan aku lakukan hari ini. Baru mengingat saja sudah menguras cukup tenaga apa lagi kalauuu….kembali kulirik jam dan pukul 06.45, bergegas mandi dan bersiap-siap ke kampus. Pagi ini dosennya sangat killer. Dhea… winda…aku memanggil kedua sahabatku itu. “diniiii…..” sambil berlari kearahku, mereka teriak seakan baru bertemu denganku setelah 5 tahun berpisah (hehehe, agak lebay ya…) Mereka berdua adalah sahabat yang selalu setia menemaniku. Mendengar cerita-ceritaku. Seakan tahu aku ingin menceritakan sesuatu winda lantas berujar “kenapa neng?” dhea mengedipkan matanya padaku seakan memberi isyarat untuk bercerita. “aku mau cerita, tapi kalian berdua jangan ketawa yaahhh…” pintaku pada mereka. “iyaa deehh..” dhea dan winda menyahut bersamaan sambil tersenyum. “semalam aku mimpiin k deva…”aku mulai menceritakan mimpiku itu dengan suara 1 oktav dan pasang muka bingung. “hah….” Winda memasang wajah yang tidak kalah bingungnya. “hahahaha….” Dhea langsung ketawa mendengar pangakuanku itu. Dini: “kok kamu malah ketawa sih dhe…tadi kan udah janji nggak ketawa…” aku pasang muka cemberut. Dhea: “hahaha…sorry, nggak habis pikir aja, kok bisa-bisanya kamu mimpiin dia.” Masih nahan ketawanya. Winda: “emang sebelum kamu tidur sempat SMSan sama k deva?” Dini: “nggak win…aku tuh seharian kemarin kan ngurus kelas aku yang jadwalnya bertabrakan itu, kuliah kemarin juga sampe sore, abis itu aku pulang kerumah langsung kerjain tugas intermediate dan buat rangkuman trus kirim e-mail untuk tugas sistem informasi manajemen ke dosen aku trus tidur deh jam 2…dan sama sekali aku nggak pernah SMSan dengan siapa pun kemarin” panjang lebar aku jelasin kegiatan aku kemarin dan menarik napas lagi. “apa itu Cuma bunga tidur yaa?” Dhea: “tapi kenapa harus k deva yang jadi bunga mimpinya neng…” kata dhea sambil mencolek pinggang aku. Dini: “aduh dhe…mana aku tau…” Sambil menatap dhea sedikit gemas. Dhea: “jangan-jangan kamu suka lagi ama k deva din…” Winda: “nahlo………….” Dini: “ih…kalian ini…ngaco deh, nggak mungkin lah. Aku ama dia itu temenan aja tau…!” Winda dan dhea: “iyaaa…temen tapi demen…hahahaha” ujar mereka bersamaan. Tengah asik ngobrol dengan winda dan dhea tiba-tiba deva lewat dan menyapa kami. “hey…ibu-ibu pada ngerumpi nih…” sambil melemparkan senyumannya. “eh si kasep…” dhea nyeletuk mengagetkan aku, dan spontan aku mencubit lengannya sambil melempar senyum ke arah deva. Dia tertawa kecil melihat tingkah anehku. “aku ke akademik dulu yah…mau ambil daftar hadir….” Deva lalu pergi. “dheaaaaaaaaaaaaa……………” teriakanku membuat dhea dan winda kaget. “nih anak kenapa sih??” “kamu yang kenapa nyeletuk kayak gitu tadi…bikin roman mukaku jadi nggak keruan aja…” “yeee….napa kamu yang merah mukanya….wong aku muji k deva…nahlo….” Masih menggodaku. “hihihihi….” Winda hanya tertawa kehabisan kata-kata melihat reaksiku tadi. “kamu have a crush with him din…udah…jangan panic..wajar kali.” Kata winda. *** Sebulan ini waktuku habis dengan mengerjakan tugas-tugas dari dosen (kelar dua datang empat…fiuh… ). Akupun jarang bertemu dan sekedar ngobrol dengan winda dan dhea. Akhir-akhir ini pun aku jarang berkomunikasi dengan Deva. Tapi hari ini aku bisa bernapas dengan lega. Tugas rampung dan hari ini aku bisa santai seharian dirumah. “hemmm, dua hari yang lalu k’dahlan (sepupu aku) mengirim e-mail, cek dulu ah…” sambil menggapai laptopku di atas meja belajar aku membetulkan posisi dudukku. Setelah mengecek e-mail aku iseng-iseng membuka facebook, sejak sebulan aku tidak pernah membuka. Kulihat notificationnya “astaga 120” agak sedikit kaget. Kubuka satu persatu dan diantara pemberitahuan itu ada satu yang menarik perhatianku, Deva mengomentari fotoku. Segera aku mengklik foto yang dimaksud dan ternyata foto itu adalah foto yang aku jadikan profil picture sejak 3 bulan yang lalu. “manis euy…hehehe” itu comentar yang ditinggalkan deva. Entah mengapa aku merasakan darahku berdesir sangat lancar. Padahal ini bukan kali pertama aku menemukan orang yang mengomentari fotoku seperti itu (bukan maksud pamer nih…hihihi) tapi kenapa deva berbeda? Aku tidak mau memiliki perasaan aneh yang mengusikku lagi. Berteman dengannya sudah cukup bagiku, dia memang baik padaku tapi jangan sampai perasaan konyol itu membuat aku jadi jauh dengannya. Masih terdiam mencoba mengatur napas yang sedikit tersengal dan jantung yang berdenyut agak cepat, tiba-tiba deva menyapaku di chat online itu Deva: “hi, neng…duh sibuk banget nih keliatannya.” Dini: “eh k2…hehehe, iya nih k’ tugas numpuk. Tapi hari ni aku bebas…” Deva: “jadi nyantai aja nih dirumah? Nggak ada acara dengan ibu-ibu PKK yang dua itu? :p” Dini: “whahah…nggak ada k’…” Deva: “mmm, jalan yuk…kebetulan aku mau nonton tapi nggak ada temen nih, gimana? ” “astaga…” aku ulangi membaca pesan yang dikirim oleh deva barusan, seakan tidak percaya. Aku memang akrab dengannya, tapi belum pernah keluar berdua dengannya. “aduhhh gimana nih??? Kalau ditolak…nggak enak, lagian aku juga terlajur udah ngomong lagi nggak ngapa-ngapain…tapi, kalo diterima ajakannya…aduuuhhhh” sambil menggaruk-garuk kepala. Deva: “hey..masih ada…? Gimana…?” Dini: “iya k2 masih ada kok…mmm, emangnya mau nonton jam berapa?” aku mengetik dengan ragu. Deva: “jam 4 sore de’…dari pada bengong dirumah, kayak ayam lagi sakit demam…hahaha” Dini: “enak aja….emang pernah liat ayam lagi demam? :p iya deh…kita ketemuan di mana nih k?” Deva: “yaaelaahh…neng aku jemputlah…aku nih cowo’ yang bertanggung jawab!” katanya sok mantap. “hah jemput???” aku semakin kagok. Tidak percaya, aku semakin sulit mengatur perasaan aneh ini. “santai din..santai…” kataku mencoba menenangkan diri dan yakin kalau semua ini hanyalah ajakan biasa seorang teman! Dini: “mmm…boleh deh…oke k2…aku off dulu yah…cu…” Deva: “oke din..ntar aku SMS kamu kalau udah mau berangkat…cu…” *** Pukul 4 sesuai jadwal pada tiket itu aku dan deva tiba dibioskop twenty one. Sore itu deva mengenakan kaos putih sepadan dengan kulitnya yang putih bersih membuatnya semakin menarik. “astaga aku ini mikir apa??? ” aku tersadar setelah beberapa saat menatap deva yang duduk disampingku. Sepanjang film diputar aku sibuk mengatur detak jantungku yang semakin tidak keruan detakannya. Sesekali deva memandangku dan tersenyum. “aduuhh…nggak boleh!!!” Batinku terus menjerit aku tidak boleh memiliki perasaan yang akhirnya akan bertepuk sebelah tangan. Aku tidak mau menyimpulkan kebaikan deva karena ada sesuatu hal yang dia rasakan. Aku menolak perasaan ini. Aku tidak mau memiliki perasaan sepesial terhadap deva. Setelah pertemuan sore itu dengan deva akupun memutuskan untuk menjaga jarak dengannya sampai aku bisa mengendalikan perasaan aneh ini padanya. Aku tidak ingin kehadirannya, menjadi suatu kebiasaan buatku yang akan terasa sesak jika dia jauh. Cukup aku dan Tuhan saja yang tau semua ini. “Cinta itu sungguh rumit yaaa…dia selalu datang tanpa permisi mengusik program pikiran kita. Kadang kita menikmati gangguan itu tanpa sedikitpun merasa terusik, namun jika cinta itu mulai mendatangkan masalah barulah kita berakata apa sih maunya…kenapa dia begitu mengusik? Katanya cinta itu tidak harus selamanya bisa kita miliki, dan cinta yang hakiki adalah ketika kita dapat merelakan orang yang kita cintai bersama yang lain…tapi mengapa ketika perpisahan dengan cinta kita menitikkan air mata…apakah itu tanda ketulusan ataukah isyarat ketidakrelaan yang tak sempat terungkap? Apa kamu pernah merasakan cinta? Apakah dia pernah merasakan cinta? Apakah mereka pernah merasakan cinta? Seperti apa sih sebenarnya cinta itu? Tak ada orang yang dapat menjelaskannya padaku…apakah cinta dapat mengajarkanku segalanya? Mengajarkan tentang arti memiliki, tentang kesetiaan, dan ketulusan?Benarkah cinta dapat mengajarkan semua itu? Sekelumit pertanyaan tentang cinta menyeruak dikepala. Tanpa satupun yang dapat terjawab olehku. Mungkin hal inilah yang membuatku belum siap untuk jatuh cinta, termasuk dengan Deva. Takut terluka, takut menangis, takut murung…ketakutan yang cukup beralasan bukan…?! 31 desember 2008

_Miftah_

Tidak ada komentar: