everything begining from here

everything begining from here

Selasa, 02 November 2010

LITTLE ANGEL

 Pagi ini aku memulai aktivitasku seperti hari-hari biasanya. Sarapanku masih ditemani dengan roti dengan selai kacang dan cappuccino. Aku memang bisa dikatakan sedikit memiliki ketergantungan dengan zat yang satu ini “caffeine”. Hari ini cukup cerah, mejadi alasan yang cukup pula untuk tetap bersemangat dan bangkit dari keterpurukanku selama setahun terakhir.
“ma…ma…hali ini mama pulang jam belapa?” Si kecil Aufa membuyarkan khayalanku.
“eh, anak mama, hari ini mama janji pulang cepat. Mama mau makan malam dengan Aufa. Aufa dirumah sama Oma, jangan nakal yaahh….” Sambil mendekap dalam-dalam putri sematang wayangku itu. Ada rasa rindu yang luar biasa yang kurasakan.

Suamiku ‘Farhan’ dipanggil Oleh Sang Kuasa setahun yang lalu, dia meninggal setelah mengalami kecelakaan beruntun sewaktu pulang dari tugas dinasnya, Farhan sempat dirujuk ke Rumah Sakit tapi sayangnya ketika aku tiba hanya sekejap saja aku melihatnya dan dia pun pergi untuk selamanya, dia meninggalkan aku dan anak kami ‘Aufa Salsabila’. Waktu itu aku sangat terpuruk, aku merasa tidak ada lagi yang dapat memberikan alasan untuk aku menyongsong hari-hariku, sampai akhirnya aku sadar ada Aufa yang juga masih membutuhkanku. Aufa lah satu-satunya alasan untuk aku tetap berjuang dan bertahan hidup. Kini usianya memasuki 3 tahun. Aku bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhannya yang semakin hari semakin banyak. Tapi ternyata memenuhi kebutuhannya secara materi tidaklah cukup. Aufa membutuhkan aku, mamanya. Dia membutuhkan sosok ibu yang mengajarinya mengenal hal-hal baru, menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya untuk memenuhi segala rasa keingin tahuannya, menemaninya bermain melihatnya tumbuh berkembang menjadi gadis kecil yang lincah. Namun selama ini aku hanya memantaunya dari jauh, hanya dengan mendengar carita-cerita ibu tiap kali Aufa melakukan hal-hal baru. Selama ini ibukulah yang membantuku menjaga dan membesarkan putriku itu, ditengah kesibukanku. Aku kadang kelabakan dalam mengatur waktu antara pekerjaan dan waktu untuk anakku Aufa. Terkadang sebagai seorang ibu naluriku sangat merindukannya, tapi seketika bunyar setelah sadar ada pekerjaan yang menumpuk didepan mata. Aku memang pekerja keras, tidak suka berdiam diri tanpa melakukan apapun. Jika ada masalah aku selalu melampiaskannya ke pekerjaan. Menghabiskan waktu dengan bekerja keras dapat meringankan beban pikiranku.
“Ayu…bukannya ibu tidak mau membantumu menjaga Aufa, tapi kamu juga perlu menyaksikan hal-hal yang luar biasa yang dilakukan oleh anakmu itu. Usianya kini adalah usia dimana ia dapat menangkap apa yang ia lihat, dengar dan rasakan. Jangan sampai ia merasa kamu mengabaikannya nak…kamu harus pandai-pandai membagi waktumu. Kasihan Aufa…”
Nasihat ibu sebelum aku berangkat tadi terus saja terngiang ditelingaku. Ibu memang benar, sesibuk apapun aku, aku tidak bisa mengabaikan Aufa, Farhan pun berpesan sesaat sebelum dia meninggalkanku, “yu…Aufa dijaga baik-baik yah…didik dia menjadi anak yang cerdas seperti kamu. Aufa permata hati kita yu…jangan kamu membiarkannya tumbuh tanpa kasih sayang. Agar dia kelak tumbuh menjadi wanita yang kuat dan lemah lembut, seperti mamanya. Kita sudah lamakan menantikan kehadirannya? Enam tahun yuuu…jadi aku minta sama kamu untuk tetap kuat seperti Ayu-ku yang kuat.” senyumnya begitu dalam kemudian dia pergi. Ku usap air mataku yang terasa hangat dipipiku. Selama ini aku tidak mengindahkan amanah dari Farhan. “maafkan aku han…aku janji akan memulainya lagi dari awal. Kembali menjadi seorang Ayu yang kau kenal.”
*** 
Aku bekerja disalah satu perusahaan swasta yang cukup besar, sebagai penasihat keuangan bisa dibilang pekerjaanku cukup berat. Penuh tantangan, namun karena itulah aku sangat menyukai pekerjaanku ini. Namun sebagai manusia biasa, terkadang aku sangat tertekan dengan pekerjaan ini, belum lagi beban menjadi single parent untuk Aufa. Namun Allah Maha Penyayang, memberikanku seorang putri yang menyejukkan hati, sangat lucu dan lincah seperti Aufa. Beban berat dari kantor dapat sirna seketika setelah melihat senyum dari bibir mungilnya. Tawanya yang renyah, dan pelukannya yang senantiasa menghujaniku ketika aku tiba dirumah.
Pukul 16.30 (dikantor)
“halo, assalamu’alaikum…ibu, Aufa Lagi apa?”
“waalaikumsalam yu…oh, itu dia baru saja selesai mandi, katanya kamu mau pulang cepat hari ini. Makanya dia bersemangat sekali. Kamu jangan mengecawakan Aufa nak…”
“InsyaAllah bu, Ayu pulang cepat hari ini.”
“omaaa…itu mama yah?” kudengar suara anakku itu.
“aluuww ma…macih dikantol? Mama ufa udah mandi cama oma…mama pulang yaahh…” (dia terus berceloteh tentang kegiatannya seharian ini. Rasa rindu tiba-tiba menyeruak)
“iya Ufa sayang…ini mama lagi siap-siap mau pulang. Ufa mau dibelikan kue?”
“mauuu maaa…loti dunat yahh ma…”
“hehehe, maksud ufa donat, sayang?”
“Iya mama, dunat.“
Dia masih saja kesulitan menyebutkan nama kue kegemarannya itu “DONAT”
“iya sayang, sebentar mama belikan yah, mama siap-siap dulu. Assalamu’alaikum…”
“calaaammm mama…”
***
“mamaaaaaaaaaaa………..” Aufa berlari mendekatiku dan seperti biasa, memberikanku hadiah pelukan. “anak mama, wangi sekali…” “cudah mandi mama….” Dia tampak senang sekali, melihatku pulang cepat hari ini.
“mama liat dong, Ufa udah bica hitung…” sambil tersenyum memamerkan gigi mungilnya. Subhanallah anakku sudah pandai berhitung.
Ada getaran yang luar biasa yang kurasakan saat itu. Kesenangan yang tidak biasa. Seperti inilah rupanya perasaan seorang ibu melihat anaknya dapat melakukan hal-hal yang baru. Senang rasanya bisa melihatnya berkembang menjadi gadis kecil yang lincah dan cerdas. Sekali lagi air mataku jatuh. Air mata penyesalan karena bukan aku yang mengajarkannya berhitung, melainkan ibu. “maafkan mama nak…”
“mama, kok naniiisss???”
“tidak sayang (segera kuhapus air mataku), mama menangis bahagia. Mana coba, mama mau lihat Ufa bisa menghitung sampai berapa…?” Sambil memainkan jarinya yang mungil dia mulai menghitung “caatuu…uwaaa…tiiigaa…mpaat…liiiimaaa…enaaam…tujuh…dellaaapaaann…cembilaaann…cepuluuuhh…” “horeee….anak mama memang pintar… jangan berhenti belajarnya yah sayang…”
“iya mama…mama ajalin Ufa yaahh…” “iya.iya.iya. mama ajarin Ufa.” Sambil mengusap dan merapikan rambutnya yang halus. Meskipun ada beberapa pengucapan angkanya yang belum sempurna, setidaknya dia sudah berusaha. Tinggal memperbaiki cara pengucapannya. Dia langsung memeluk dan mengecup pipiku. Seakan baru pertama kali bertemu. Ini memang kali pertama aku dapat melewatkan waktu cukup lama dengannya. Setelah puas memelukku, dia kembali asik menekuni permainan puzzlenya. Kutinggalkan dia untuk bersih-bersih dan menuju dapur untuk membantu ibu menyiapkan makan malam. Ibu juga seperti Aufa, senang melihatku dapat menepati janji untuk pulang cepat.
“kamu sudah lihat perkembangan baru Aufa hari ini yu..?” Tanya ibu ketika aku tengah asik merapikan meja makan.
“iya bu, sudah…ternyata salama ini aku belum bisa menjadi ibu yang baik yah bu…”
“belum terlambat nak…masih ada waktu untuk membuat hubunganmu dengan Aufa semakin akrab.”
“aku sebenarnya malu sama ibu, dari kecil ibu merawatku. Ibu kurepotkan dengan segala kerewelan ala anak kecil, dan setelah aku menjadi seorang ibu, eh…malah ibu yang menjaga yang membesarkan anak aku…”
“ibu hanya menjadi penengah untuk kalian berdua. Membantumu menjalankan amanah dari almarhum suamimu…”
“terimakasih ibu sudah menjaga malaikat kecilku… ”
“ibu menjaga malaikat kecil yang kelak akan menjaga malaikat keci ibu. Seperti malaikat kecil ibu yang menjaga ibu sekarang…”
“ibu………” Suasana haru tiba-tiba menyeruak ditengah kami. Kupeluk sosok perempuan yang begitu kuat dan tegar dihadapanku itu. Kucium tangan halusnya yang kini sudah mulai mengeriput itu. Ibu langsung mengusap kepalaku dan menyeka air mataku.
“jangan pernah lagi kau memperlihatkan air matamu di depan anakmu yu…karena itu bisa membuatnya lemah dan rapuh. Jangan sampai dia menangkap bahwa dengan menangis masalah dapat terselesaikan. Ingat, Farhan ingin dia tumbuh menjadi anak yang kuat dan tegar.”
“iya bu…Ayu tidak akan mengulanginya lagi…Ayu janji…”
*** 
Selepas shalat Maghrib, aku, ibu dan Aufa berkumpul dan makan malam bersama. Gado-gado menjadi menu utama kami. Itu kesukaan Aufa. Inilah pertama kalinya setelah setahun kami tidak pernah duduk bersama dalam kehangatan seperti ini.
“mama, cudah mam…Ufa minta dunatnya yaaahh…” Dengan wajah polosnya mengingatkan janjiku padanya. “Ya Allah…mama lupa…iya sayang, boleh…ada di dapur, sebentar mama ambilkan yah…”
“untuk oma juga ada???”
“ada sayang…” (hehehe. Aufa anakku yang cerdas dan baik hati, selalu saja memperhatikan orang lain)
“tuh, yu…lihat Ufa makannya banyakkann?? Tidak pernah sisa lagiii….yah nak yaahhh?” (sambil mengusap kepal cucu kesayangannya itu). Aufa hanya tersenyum karena mulutnya masih penuh dengan makanan. Tapi seakan paham bahwa dia baru saja mendapat pujian dari omanya, dia mengedipkan matanya dan mengacungkan jempolnya. “sekali lagi terimakasih ibu…” Ibu hanya membalasnya dengan senyuman.
***
Kini aku sudah mulai bisa kuat ketika Aufa menanyakan keberadaan papanya. “mama…papa kok pelginya lama ciiihh???” “ufa sayang, papa sekarang sudah ada dekat dengan Allah” “papa bikin apa cama Allah mama?” “papa lagi meminta pada Allah supaya Aufa selalu dijaga, diberi kesehatan dan tumbuh menjadi anak yang soleha sayang….” “ooo….tapi kapan papa puyang? Ufa linduuu…” “papa temptnya sudah berbeda dengan kita, ada waktunya kita ketemu papa nak, kalau Allah sudah mengijinkan, kita akan ketemu papa. Ufa jangan lupa berdo’a sama Allah untuk papa yah…..” “iya mama…ufa mau minta sama Allah cupaya ufa bica ketemu papa. Minta cama Allah cupaya papa tidak cakit. Maaa…Allah baik yah ma?” “tentu saja sayang, Allah Maha Baik, ufa minta apa saja pasti dikasih sama Allah, asal mintanya yang baik-baik yah nak yaah….jangan yang jelek-jelek. Misalnya ufa minta supaya jadi anak yang pintaarr, itu Allah dengar. IsnyaAllah dikabulkan. Asal…ufa juga belajar. Kalau minta sama Allah harus dengan sabar.” “kenapa ma?” “karena Allah mencintai orang-orang yang sabar nak…” “jadi kalau ufa nakaalll…Allah tidak cuka? Allah malahin papa yah kalau ufa nakal?” “iya sayang..makanya ufa jangan naaa..?” aku memotong perkataanku, “kaaalll….” Dan ufa yang menyambungnya dengan senyum manisnya. “iya mama…ufah tidak nakal…” “anak mama memang pintar…” sambil mendekapnya dalam-dalam. Menjadi single parent merupakan ujian yang sangat sulit untukku. Namun Aufa selalu hadir dan memberikanku kekuatan dalam melewatinya. Mendengar dia memanggilku “MAMA” membuat hatiku terasa damai. Terimakasih YA ALLAH, Engkau memberikan malaikat kecil untuk menemaniku mengarungi kahidupan ini. Aku akan berusaha menjadi nahkoda yang baik untuknya, menjadi pakaian yang indah untuknya, menjadi tiang penyangga ketika dia merasa rapuh, dan menjadi tempat dia pulang untuk melepas segala kepenatannya. Akan kujaga titipan-MU ini dengan setulus hati. Mendidik dan mengajarkannya untuk mengenal dan mencintai-MU.
“Aufa sayang…tumbuhlah menjadi anak yang kuat dan mandiri. Berdirilah diatas tungkai kakimu sendiri. Jangan pernah ragu untuk melangkah nak…do’a mama menyertaimu dimanapun kau berada. Papa dari jauh akan meminta pada ALLAH agar tetap menjagamu nak…I LOVE YOU AUFA…”

_Miftah_

Tidak ada komentar: