everything begining from here

everything begining from here

Jumat, 29 Oktober 2010

RAMADHAN YANG INDAH



“Ramadhan oh Ramadhan….terimakasih Ya Allah, Engkau masih mempertemukanku dan seluruh keluargaku dengan bulan nan suci ini. Terimaksih atas limpahan karunia-Mu dibulan penuh barokah ini.”
Itulah sepenggal do’aku dimalam pertama Ramadhan tahun ini. Bersyukur masih dapat berkumpul dengan Bapak dan Ibu serta keempat adik-adikku di istana kami tercinta ini. Yah, mungkin bagi sebagian orang yang melihat rumah kami ini, mereka akan beranggapan rumah kami ini sangat tidak pantas disebut istana, gubuk mungkin lebih tepatnya. Tapi bagi kami sekeluarga ini adalah istana. Karuani Allah yang Maha Luar Biasa. Dari gubuk kecil inilah aku merajut kisah hidupku helai demi helai. Belajar tentang makna hidup dan mensyukuri pemberian-Nya. Ramadhan tahun ini agak sedikit berbeda dari Ramadhan tahun-tahun kemarin. Tahun ini aku telah masuk SMP dan adikku Rini dan Zahra naik kelas 3 dan 4 dengan prestasi yang Alhamdulillah memuaskan. Mereka mendapat peringkat pertama yang artinya mereka mendapat  beasiswa selama setahun. Dan akupun masuk ke SMP favorit dengan nilai yang Alhamdulillah bisa dikatakan ditak memalukan, sehingga aku dapat masuk daftar nama siswa penerima beasiswa tetap selama aku bersekolah. Dengan syarat nilaiku tidak boleh merosot.
“Ya Allah…semoga hamba-Mu ini mampu…mohon bimbing hamba… ^_^ amiiiinnnnn”
Sungguh karunia yang tidak pernah kami sangka, bertubi-tubi kemudahan yang kami dapatkan agar kami tetap bersekolah dan tidak terlalu membebani kedua orang tua kami yang hanya bekerja sebagai buruh lepas pada sebuah perusahaan yang bergerak dibidang produksi makanan instant.
“Asalkan kita punya kemauan yang kuat dengan di bantu dengan usaha yang maksimal dan tidak lepas dari do’a kepada Sang Maha Mengetahui, InsyaAllah…apa yang kamu cita-citakan akan kamu gapai. Jangan kamu memperdulikan cemooh orang yang tidak bertanggung jawab diluar sana. Mereka mau menghina kamu yang miskin pun kamu harus membalasnya dengan senyuman…jangan balas mengumpat. Dan buktikan pada mereka, bahwa kamu mampu seperti mereka. Sabar dalam ikhtiar adalah kunci keberhasilan orang-orang sukses”
Nasihat Ibu masih menari-nari diingatanku. Itulah yang membuat aku tetap semangat mengejar cita-citaku. Berusaha dan berdo’a, jalannya akan dibukakan oleh Allah SWT. InsyaAllah…Aminnnn….
“Amiraaahhhh….sholat tarwih..ini tarwih pertama kannn…”
Suara Ibu membuyarkan lamunanku saat itu. Aku segara bergegas bersiap-siap ikut Bapak dan kedua adik-adikku yang telah bersiap-siap untuk menuju masjid yang terletak dikampug kami. Sedangkan Ibu menjalankan tarwih dirumah karena kedua adikku Ahmad dan Sofia masih berumur 3 dan 2 tahun. Ibu takut kalau membawa mereka ke masjid akan menggangu para jama’ah yang ingin menjalankan ibadah. Jadi Ibu memilih menjaga mereka dirumah. Rini dan Zahra sangat antusias menyambut bulan suci ini. Karena ini adalah kali pertama mereka menjalankan ibadah puasa. Tahun-tahun kemarin mereka hanya belajar menjalankannya setengah hari saja. Tapi kali ini mereka berjanji ingin berpuasa penuh satu hari. Dengan membawa buku amaliah ramadhan mereka berjalan sambil sesekali tersenyum melihatku dan bapak. Senang melihat senyum tulus dari kedua adik-adikku itu.
Hari-hari dalam bulan suci ramadhan kami jalankan dengan suka cita. Berharap mendapatkan keridhaan Allah dan dapat bertemu kembali di hari nan Fitri. Suatu hari di minggu kedua ramadhan, istana kami dikunjungi oleh tiga orang yang sepintas aku melihat mereka sepertinya kakak-kakak mahasiswa. Aku menemani ibu menyambut kakak-kakak itu.
“Ada perlu apa yah dik…?” Tanya ibu mencoba meraba-raba tujuan kedatangan mereka. Karena tidak biasanya kami mendapat kunjungan orang asing.
“Begini Bu…kami ini mau mengajak keluarga Ibu dan beberapa warga kampung ini untuk mengadakan buka puasa bersama di kampung ini Bu. Naah kebetulan kami denganr dari warga sekitar Ibu ini pintar memasak, bagaimana kalau Ibu yang membuat menu makan malam dan menu buka puasanya???” jawab salah seorang dari kakak-kakak itu.
“Iya Bu, nanti kami memberikan dananya kepada Ibu. Ibu tinggal menghitung biaya yang kira-kira dibutuhkan, nanti kami kasih ke Ibu. Bagaimana Bu, apakah Ibu bersedia???” yang satunya lagi menimpali.
“Waaahh..alhamdulillah ibu ini senang sekali looh dik. Soalnya baru pertama kali ini ada yang mau datang dan berbuka bersama dikampung kumuh seperti ini.” Jawab Ibu berusaha jujur tanpa menyembunyikan gurat kebahagiaanya. “memangnya berapa banyak yah dik yang mau disiapkan?”
“Sekitar 200 orang Bu yang akan kita undang termasuk warga kampung ini. Apakah Ibu bersedia?”
“Subhanallah…banyak sekali yaaahhh. InsyaAllah Ibu siap dik. Kita hitung bersama saja biaya yang dibutuhkan. Biar adik-adik ini juga melihat berapa? Bagaimana?”
“Boleh Bu…kalau begitu mari bisa kita mulai menghitung biayanya Bu…” dan kakak-kakak itupun mulai menghitung biaya yang kira-kira dibutuhkan untuk memberi makan 200 orang.
Ibu memang terkenal di kampung kami pandai memasak dan masakan Ibu juara enaknya. Sungguh berkah dibulan suci ini. Ibu mendapat penghasilan yang lumayan mencukupi kebutuhan kami selama bulan puasa ini. Jadi sementara Ibu tidak perlu lagi bekerja keras ke pabrik seharian. Bapak juga kasihan melihat Ibu sepulang dari bekerja masih harus mengurus kami.
Setelah acara buka puasa itu, semakin banyak orang dari luar kampung kami yang datang ke istana kami meminta jasa Ibu untuk memasak. Alhamdulillah, dari hasil memasak Ibu, Ibu bisa mengumpulkan modal dan akhirnya membuka warung makan dikampung kami. Dan juga menerima pesanan.
Dimalam 25 Ramadhan kami semua kumpul dan berdo’a mengucap syukur kepada Allah atas rejeki yang diberikan kepada keluarga kami. Berkah bulan puasa ini sungguh luar biasa. Kondisi ekonomi keluargaku sangat berbeda. Kami tidak henti-hentinya mengucap syukur padanya. Satu nasihat Bapak pada kami saat kami telah memanjatkan do’a. “jangan pernah kalian silau akan perhiasan dunia. Rejeki yang diberikan oleh Allah ini merupakan ujian terberat untuk kita semua. Jangan sampai karena kondisi kita yang mulai mapan kita sampai lupa akan kewajiban dan posisi kita dimata Allah. Tidak akan seperti sekarang ini kita tanpa kehendak-Nya. Dan apa yang kita miliki sekarang ada sebagian hak orang-orang yang kurang mampu yang tidak boleh kita menundanya untuk memberikan.” Kami semua mendengarkan dengan seksama kecuali kedua adikku Ahmad dan Sofia yang masih asik dengan mainannya. Aku sempat tertawa geli melihat tingkah adik-adik kecilku itu. Memang benar kata ustadza, “jangan pernah mengabaikan tamu yang datang kerumah, karena sungguh kedatangan mereka akan membawa rejeki untuk kita. Ada manfaat yang sangat besar dari menjalin silaturahmi, maka merugilah orang-orang yang memutuskan tali silaturahmi antara saudara-saudaranya.”
Semoga dengan rejeki yang Allah berikan saat ini, kami sekeluaga pun dapat menyantuni anak-anak yatim seperti anjuran Rasulullah SAW, dengan kita menyayangi anak yatim sama dengan kita menyayangi Rasulullah SAW. Dan air mataku pun jatuh mengingat lembar demi lembar hari yang kami lewati. Tidak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada-Nya atas apa yang aku peroleh. Aku memperoleh satu pelajaran sederhana namun amat besar pengaruhnya bagiku bahwa “tidak ada satu kekurangan bagi kita, jika kita memang meniatkannya akan cukup, maka Allah Yang Maha Pengasih dan Pemurah akan mencukupkannya. Karena kekurangan hanya dialami oleh orang-orang yang tidak pandai bersyukur.”
Hari Raya Idul Fitri pun kami songsong dengan penuh suka cita. Bahagia telah menjalankan wisata rohani selama sebulan lamanya dan melewati fase-fase yang begitu tidak terkira. Aku berharap masih diberi umur untuk bertemu dengan bulan nan suci ini tahun-tahun berikutnya. Aminnn…..semoga kita semua menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa taqwa kepada-Nya.

_Miftah_


Tidak ada komentar: