“Ramadhan oh Ramadhan….terimakasih Ya Allah, Engkau masih mempertemukanku
dan seluruh keluargaku dengan bulan nan suci ini. Terimaksih atas limpahan
karunia-Mu dibulan penuh barokah ini.”
Itulah sepenggal do’aku dimalam pertama Ramadhan tahun
ini. Bersyukur masih dapat berkumpul dengan Bapak dan Ibu serta keempat
adik-adikku di istana kami tercinta ini. Yah, mungkin bagi sebagian orang yang
melihat rumah kami ini, mereka akan beranggapan rumah kami ini sangat tidak
pantas disebut istana, gubuk mungkin lebih tepatnya. Tapi bagi kami sekeluarga
ini adalah istana. Karuani Allah yang Maha Luar Biasa. Dari gubuk kecil inilah
aku merajut kisah hidupku helai demi helai. Belajar tentang makna hidup dan
mensyukuri pemberian-Nya. Ramadhan tahun ini agak sedikit berbeda dari Ramadhan
tahun-tahun kemarin. Tahun ini aku telah masuk SMP dan adikku Rini dan Zahra
naik kelas 3 dan 4 dengan prestasi yang Alhamdulillah memuaskan. Mereka
mendapat peringkat pertama yang artinya mereka mendapat beasiswa selama setahun. Dan akupun masuk ke
SMP favorit dengan nilai yang Alhamdulillah bisa dikatakan ditak memalukan,
sehingga aku dapat masuk daftar nama siswa penerima beasiswa tetap selama aku
bersekolah. Dengan syarat nilaiku tidak boleh merosot.
“Ya Allah…semoga hamba-Mu ini mampu…mohon bimbing hamba… ^_^ amiiiinnnnn”
Sungguh karunia yang tidak pernah kami sangka,
bertubi-tubi kemudahan yang kami dapatkan agar kami tetap bersekolah dan tidak
terlalu membebani kedua orang tua kami yang hanya bekerja sebagai buruh lepas
pada sebuah perusahaan yang bergerak dibidang produksi makanan instant.
“Asalkan kita punya kemauan yang kuat dengan di bantu
dengan usaha yang maksimal dan tidak lepas dari do’a kepada Sang Maha
Mengetahui, InsyaAllah…apa yang kamu cita-citakan akan kamu gapai. Jangan kamu
memperdulikan cemooh orang yang tidak bertanggung jawab diluar sana. Mereka mau
menghina kamu yang miskin pun kamu harus membalasnya dengan senyuman…jangan
balas mengumpat. Dan buktikan pada mereka, bahwa kamu mampu seperti mereka.
Sabar dalam ikhtiar adalah kunci keberhasilan orang-orang sukses”
Nasihat Ibu masih menari-nari diingatanku. Itulah yang
membuat aku tetap semangat mengejar cita-citaku. Berusaha dan berdo’a, jalannya
akan dibukakan oleh Allah SWT. InsyaAllah…Aminnnn….
“Amiraaahhhh….sholat tarwih..ini tarwih pertama kannn…”
Suara Ibu membuyarkan lamunanku saat itu. Aku segara
bergegas bersiap-siap ikut Bapak dan kedua adik-adikku yang telah bersiap-siap
untuk menuju masjid yang terletak dikampug kami. Sedangkan Ibu menjalankan
tarwih dirumah karena kedua adikku Ahmad dan Sofia masih berumur 3 dan 2 tahun.
Ibu takut kalau membawa mereka ke masjid akan menggangu para jama’ah yang ingin
menjalankan ibadah. Jadi Ibu memilih menjaga mereka dirumah. Rini dan Zahra
sangat antusias menyambut bulan suci ini. Karena ini adalah kali pertama mereka
menjalankan ibadah puasa. Tahun-tahun kemarin mereka hanya belajar
menjalankannya setengah hari saja. Tapi kali ini mereka berjanji ingin berpuasa
penuh satu hari. Dengan membawa buku amaliah ramadhan mereka berjalan sambil
sesekali tersenyum melihatku dan bapak. Senang melihat senyum tulus dari kedua
adik-adikku itu.
Hari-hari dalam bulan suci ramadhan kami jalankan dengan
suka cita. Berharap mendapatkan keridhaan Allah dan dapat bertemu kembali di
hari nan Fitri. Suatu hari di minggu kedua ramadhan, istana kami dikunjungi
oleh tiga orang yang sepintas aku melihat mereka sepertinya kakak-kakak
mahasiswa. Aku menemani ibu menyambut kakak-kakak itu.
“Ada perlu apa yah dik…?” Tanya ibu mencoba meraba-raba
tujuan kedatangan mereka. Karena tidak biasanya kami mendapat kunjungan orang
asing.
“Begini Bu…kami ini mau mengajak keluarga Ibu dan
beberapa warga kampung ini untuk mengadakan buka puasa bersama di kampung ini
Bu. Naah kebetulan kami denganr dari warga sekitar Ibu ini pintar memasak,
bagaimana kalau Ibu yang membuat menu makan malam dan menu buka puasanya???”
jawab salah seorang dari kakak-kakak itu.
“Iya Bu, nanti kami memberikan dananya kepada Ibu. Ibu
tinggal menghitung biaya yang kira-kira dibutuhkan, nanti kami kasih ke Ibu.
Bagaimana Bu, apakah Ibu bersedia???” yang satunya lagi menimpali.
“Waaahh..alhamdulillah ibu ini senang sekali looh dik.
Soalnya baru pertama kali ini ada yang mau datang dan berbuka bersama dikampung
kumuh seperti ini.” Jawab Ibu berusaha jujur tanpa menyembunyikan gurat
kebahagiaanya. “memangnya berapa banyak yah dik yang mau disiapkan?”
“Sekitar 200 orang Bu yang akan kita undang termasuk
warga kampung ini. Apakah Ibu bersedia?”
“Subhanallah…banyak sekali yaaahhh. InsyaAllah Ibu siap
dik. Kita hitung bersama saja biaya yang dibutuhkan. Biar adik-adik ini juga
melihat berapa? Bagaimana?”
“Boleh Bu…kalau begitu mari bisa kita mulai menghitung
biayanya Bu…” dan kakak-kakak itupun mulai menghitung biaya yang kira-kira
dibutuhkan untuk memberi makan 200 orang.
Ibu memang terkenal di kampung kami pandai memasak dan masakan
Ibu juara enaknya. Sungguh berkah dibulan suci ini. Ibu mendapat penghasilan
yang lumayan mencukupi kebutuhan kami selama bulan puasa ini. Jadi sementara
Ibu tidak perlu lagi bekerja keras ke pabrik seharian. Bapak juga kasihan
melihat Ibu sepulang dari bekerja masih harus mengurus kami.
Setelah acara buka puasa itu, semakin banyak orang dari
luar kampung kami yang datang ke istana kami meminta jasa Ibu untuk memasak.
Alhamdulillah, dari hasil memasak Ibu, Ibu bisa mengumpulkan modal dan akhirnya
membuka warung makan dikampung kami. Dan juga menerima pesanan.
Dimalam 25 Ramadhan kami semua kumpul dan berdo’a
mengucap syukur kepada Allah atas rejeki yang diberikan kepada keluarga kami.
Berkah bulan puasa ini sungguh luar biasa. Kondisi ekonomi keluargaku sangat
berbeda. Kami tidak henti-hentinya mengucap syukur padanya. Satu nasihat Bapak
pada kami saat kami telah memanjatkan do’a. “jangan
pernah kalian silau akan perhiasan dunia. Rejeki yang diberikan oleh Allah ini
merupakan ujian terberat untuk kita semua. Jangan sampai karena kondisi kita
yang mulai mapan kita sampai lupa akan kewajiban dan posisi kita dimata Allah.
Tidak akan seperti sekarang ini kita tanpa kehendak-Nya. Dan apa yang kita
miliki sekarang ada sebagian hak orang-orang yang kurang mampu yang tidak boleh
kita menundanya untuk memberikan.” Kami semua mendengarkan dengan seksama
kecuali kedua adikku Ahmad dan Sofia yang masih asik dengan mainannya. Aku
sempat tertawa geli melihat tingkah adik-adik kecilku itu. Memang benar kata
ustadza, “jangan pernah mengabaikan tamu
yang datang kerumah, karena sungguh kedatangan mereka akan membawa rejeki untuk
kita. Ada manfaat yang sangat besar dari menjalin silaturahmi, maka merugilah
orang-orang yang memutuskan tali silaturahmi antara saudara-saudaranya.”
Semoga dengan rejeki yang Allah berikan saat ini, kami
sekeluaga pun dapat menyantuni anak-anak yatim seperti anjuran Rasulullah SAW,
dengan kita menyayangi anak yatim sama dengan kita menyayangi Rasulullah SAW.
Dan air mataku pun jatuh mengingat lembar demi lembar hari yang kami lewati.
Tidak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada-Nya atas apa yang aku peroleh.
Aku memperoleh satu pelajaran sederhana namun amat besar pengaruhnya bagiku
bahwa “tidak ada satu kekurangan bagi kita, jika kita memang meniatkannya akan
cukup, maka Allah Yang Maha Pengasih dan Pemurah akan mencukupkannya. Karena
kekurangan hanya dialami oleh orang-orang yang tidak pandai bersyukur.”
Hari Raya Idul Fitri pun kami songsong dengan penuh suka
cita. Bahagia telah menjalankan wisata rohani selama sebulan lamanya dan
melewati fase-fase yang begitu tidak terkira. Aku berharap masih diberi umur
untuk bertemu dengan bulan nan suci ini tahun-tahun berikutnya. Aminnn…..semoga
kita semua menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa taqwa kepada-Nya.
_Miftah_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar