everything begining from here

everything begining from here

Jumat, 29 Oktober 2010

DUH NARTY…OH, JACKO…

25 Juni 2009 hari ini ulang tahun narty adik bungsu aku. Tepat dihari ulang tahunnya ini kabar tentang kematian King Of POP “JACKO” telah mencuak , berbagai media menayangkan beritanya. Di TV pun seluruh channel menyiarkannya. Bosan rasanya melihat berita yang itu-itu saja. Tentang JACKO, JACKO, dan JACKO lagi. Karena seringnya siaran TV memuat tentang KING OF POP ini adikku narty jadi tergila-gila olehnya. Ia tidak pernah melewatkan satu pun berita tentang JACKO bahkan sampai menunggu konsernya yang akan ditayangkan di TV, tak perduli apakah disiarkan tengah malam sekalipun.
Tak pelak kaset CD, poster, foto-foto sampai baju kaos yang bergambar JACKO diincarnya. “aduh sayang, kamu telat jadi fansnya, JACKO udah nggak ada ini…” ledekku saat itu sambil mengacak-acak rambut lurus sebahunya. “biarin…bweekk…kakak ini sirik aja deh…” sambil memonyongkan bibir tipisnya dan berlalu. Sejak itu narty jadi suka dengar lagu-lagu barat, bahkan menghapal teksnya padahal dia sendiri tidak mengerti maksud dari lagu itu. Dibela-belain browsing hanya untuk mendapatkan teks lagu-lagu dari setiap album JACKO. Ibuku sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah anak bungsunya itu. “tuh, liah adik kamu, biasanya dia paling senewen kalau kamu muter lagu-lagu barat. Katanya dia nggak ngerti. Tapi…sekarang eh, malah dia yang semangat sampai ngapalin teksnya segala ” komentar ibu ketika melihat narty dengan asiknya menyanyikan thriller nya JACKO dari MP4 kesayangannya. Dan aku hanya menimpali komentar bu dengan tawa kecil. Sewaktu ia meminta pada ayah untuk membelikannya MP4, ayah langsung membelikannya dan dan lagi-lagi yang menjadi sasaran adalah aku, ia memintaku untuk mengisi MP4nya itu dengan lagu-lagu idolanya itu. “semua lagu-lagu jacko yah kakakku sayang” ia mencoba menggodaku sambil senyum dan mengedipkan matanya. “aduh de’ tapi kakak nggak punya semua, kakak hanya punya 2 lagu jacko di computer kakak…” “yaaa, ayolah kak, cari ditemen-temen kakak…masa sih nggak ada satupun temen kakak yang punya” setengah merengek kali ini. “iya…iya…ntar kakak cariin…tapi nggak janji loh…” Diapun tersenyum sambil mengecup pipiku dan berlari maraih buku biologinya dan melanjutkan tugas hapalannya. Belakangan ini kami memang sering dibuat repot dengan tingkah narty. Tapi untung saja dia tidak lupa dengan kewajibannya untuk tetap belajar. “udah biarin aja, toh adik kamu selama ini nggak pernah ngerepotin kamu kan…baru kali ini…” kata ibu. “iya juga sih bu…” Yah, selama ini memang anak itu tidak pernah menuntut pada orang tua. Iapun jarang merepotkanku, sangat penurut. Kalaupun permintaannya tidak bisa dipenuhi dia tidak lantas marah seperti anak seusianya, yang sedikit saja keinginannya tidak dipenuhi langsung langsung menggalakkan aksi mogok bicara. Hmmm….ckckckc. Akhirnya semua lagu-lagu JACKO dari berbagai albumnya (Thiller, forever Michael, blood on the dance floor dan lainnya) aku berhasil dapatkan setelah menginspeksi beberapa laptop teman-teman aku sesuai saran narty. Ketika aku ke toko buku untuk mencari beberapa buku kuliah tiba-tiba pandanganku jatuh pada rak buku bertuliskan ‘Best Seler’, di situ ada buku biografi JACKO. Aku tiba-tiba berinisiatif untuk membelikan dan menghadiahkan buku itu untuk narty. Ia belum memiliki buku tentang JACKO. “narty pasti senang…” harapku. Dan benar saja, ketika aku tiba dirumah, aku langsung masuk ke kamar dan mengeluarkan satu per satu buku-buku yang aku beli. Narty yang ada dikamarku itu langsung loncat kegirangan ketika ia melihat aku mengeluarkan salah satu buku yang bersampul gambar JACKO. Tanpa membuang waktu dia meraihnya dari tanganku. “makasih kakakku sayanggg…” “eh apa-apaan nih? Main ambil aja…emang itu buat kamu..?!” sambil menarik kembali buku biografi JACKO darinya. “trus buat siapa donk kak?” raut wajahnya seketika berubah lemas. “hehehe…iya iya iya… ini untuk kamu adik baweelll…” “yeeesssssss…..” kembali diraihnya buku itu dari tanganku “eit..jangan sampai lupa membaca buku yang lain juga… ” kataku memperingatkannya. “pastinya kak…” Dia pun berlalu meninggalkanku yang tengah merapikan buku-buku. _Miftah_

Tidak ada komentar: