3-4 Jam Seminggu
Udara pagi ini terasa begitu menusuk tulang. Tidak biasanya suhu dipagi hari begitu beku, sebeku pagi ini. Jam tanganku menunjukkan pukul 08.00. Sejam lagi kau akan tiba menjemputku. Kau selalu menyempatkan diri untuk menemuiku walaupun itu hanya 3-4 jam dari 168 jam yang kau punya. Dan aku tidak pernah keberatan. Seolah menjadi kegiatan rutin tiap minggu kita untuk bertemu dan saling sharing tentang pengalaman yang kita lewati dalam garis rutinitas masing-masing.
Pukul 09.05 kaupun tiba, aku langsung menyambutmu dan kau langsung memasang senyum seolah memberi isyarat permintaan maaf karena terlambat 5 menit dari yang kau janjikan. Sebenarnya itu bukan masalah besar bagiku, karena menunggumu memang adalah salah satu kebiasaan yang menjemukan manun selalu aku lakukan. Jadi persoalan keterlambatan 5 menitmu itu bukan masalah bagiku.
“kita langsung cabut kalau gitu, perutku sudah keroncongan dari tadi…hehehe”
“ayooo…”
“mau sarapan apa pagi ini?” ini adalah bagian yang tidak pernah lepas dari pertemuan kita.
Kau selalu saja memintaku untuk mengajukan tempat makan, padahal kita sama-sama tahu kau tipe pemilih makanan, sangat berbeda denganku yang dapat menerima jenis makanan apa saja.
“aku ikut kamu sajalah, kamu mau makan apa? Kan yang ribet kalau urusan makan, kamu…” aku tersenyum kecil padamu sambil menebak-nebak jawaban yang akan kau berikan.
“iya sih, tapi kan nggak ada salahnya minta pendapatmu dulu siapa tau kita sepemikiran lagi, seperti biasanya.” Inilah wacana awal setiap kita bertemu, aku sampai hapal tiap titik koma wacana kita ini.
“oh ya bagaimana seminggu ini?” kau mulai membuka wacana lain, dan Norah Jones-Don’t Know Why masih mengalun dengan indahnya.
“seminggu ini aku banyak tinggal dirumah, tidak ada kegiatan menarik seminggu ini. Kamu sendiri?”
“yah, kalau saya sih kegiatannya monoton Wi, itu-ituuu saja…”
Tampak jelas kalau kau sedang jenuh dengan rutinitas yang mengekangmu ini. Kau mencoba berdamai dengan keadaan, dan sekali lagi aku bersyukur aku masih bisa menjadi tempatmu menumpahkan kejenuhanmu itu. Aku mencoba memberikanmu semangat kembali, dan kau hanya menimpali dengan senyuman. Sepertinya kau bena-benar lelah, tidak biasanya kau seperti ini. Biasanya kaulah yang paling semangat menceritakan kejadian demi kejadian yanga kau lewati selama sepekan.
“oh ya, aku sudah dapat tempat kuliah, dan Alhamdulillah aku dapat menyesuaikan waktunya dengan waktu kerjaku.”
Intonasi suaramu kali ini terasa lebih ringan ditelinganku, senyummu pun lebih enak dipandang sekarang. Kau memang bukan orang yang suka memasang muka lemas dan cemberut didepan orang lain, kalaupun terpaksa kau lakukan, itu pasti tidak akan berlangsung lama.
“oh yaa??? Syukurlah kalau begitu. Tapi tidak terlalu jauhkan?”
“iya Wi…alhamdulillah…”
“owh, bagus lah kalau gitu”
“iya…”
“semoga lancar yah kuliahnya…” aku sekali lagi mencoba menyemangatimu, dan meyakinkanmu bahwa kau pasti bisa melewati semuanya.
“iyaa Wi…makasih ya…”
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
“semoga saja waktu untuk berinteraksi dengan dunia luar tidak hilang sama sekali yah…?”
kau merilik kearahku seakan memintaku untuk menyakinkanmu sekali lagi bahwa ‘semua akan baik-baik saja’
Dan diam-diam aku meng-amini dalam hati. Karena akupun sebenarnya tidak ini kehilangan waktu 3-4 jam itu bersamamu.
“semua akan berjalan lancar kalau di atur dengan baik kok.. tenang saja, jangan panik dan pesimis dulu.”
***
Kini aku mulai harus berdamai dengan ketidak nyamanan, karena pertemuan kita seminggu sekali kadang tidak dapat terpenuhi karena kesibukan barumu itu. Terkadang dalam dua minggu kau sama sekali tidak menemuiku. Kabar pun jarang. Tapi itu sekali lagi bukan masalah buatku. Karena aku tahu kau adalah orang yang tidak kreatif, dan terkesan kaku untuk ukuran seorang pria.
Hari ini aku seperti biasa, selalu berinisiatif menghubungimu lebih dulu, mungkin kalau dengan pria lain aku tidak akan mau melakukan hal seperti ini, tapi entah mengapa kalau menyangkut kau, semua termarginalkan. Ku kirimkan kau sebuah pesan singkat.
“apa kabar? Bagaimana kuliahanya?”
“hy Wi, kabar Alhamdulillah sehat, kamu sendiri?”
“sama, aku juga sehat kok…” aku mengirimkan pesan sedatar itu berharap kali ini kau sedikit berinisiatif untuk menceritakan sesuatu tanpa ku minta. Termasuk memberiku penjelasan mengapa semenjak kau kuliah kau jadi susah untuk ku temui, bahkan untuk 3-4 jam saja.
“iya nih Wi…aku tiap akhir pekan selalu payah, kegiatan dari senin sampai jum’at itu capeknya baru terasa di akhir pekan begini.”
Akhirnya aku mulai bisa benar-benar berdamai dengan ketidak nyamanan itu, aku akhirnya mengerti dan sangat memaklumi mengapa akhir-akhir ini kau sangat sulit meluangkan sedikit waktumu untukku.
Kau adalah satu kebiasaan untukku. Kehilangan kontak denganmu membuatku panik, dan merasa ada yang aneh. Karena kau berbeda dengan yang lain, kau memiliki sesuatu yang selama ini tidak pernah kutemukan pada orang-orang yang ada disekelilingku. Terimakasih telah memberi warna baru.
Kau adalah kebiasaan yang unik bagiku, dan aku selalu suka akan hal itu. Semoga waktu 3-4 jam itu masih ada, walau kini aku harus menunggu 2 pekan tiap bulannya.
Mungkin orang menganggapku tidak rasional menjalin hubungan seperti ini. Tapi aku tidak perduli, walaupun sejumput perasaan sedang kupertaruhkan dalam ketidak pastian. Berada dalam garis abu-abu. Aku menikmatinya dan tampaknya kaupun seperti itu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar