everything begining from here

everything begining from here

Jumat, 29 Oktober 2010

Supir Angkutan Umum dan Bapak Pengemis

Pukul 09.15 aku berangkat menuju kampus. Aku terdaftar sebagai mahasiswi pada salah satu Universitas terbesar di Indonesia Timur. Aku mengambil jurusan Akuntansi pada Fakultas Ekonomi. Hari ini aku ada kuliah intermediate accounting I. Dengan menumpangi angkutan umum (pete’-pete’ sebutan untuk jenis kendaraan ini di kotaku) jurusan kampus. Memang ada beberapa angkutan dengan trayek sama yang selalu berkeliling kampus masuk dari pintu I keluar di pintu II. Seperti biasanya supir nagkutan ngetem sampai penumpang penuh atau setidaknya lebih dari lima orang. Beberapa mahasiwa sudah mulai mengeluh karena kepanasan, ada yang mengeluh karena sudah terlambat “sepertinya dosennya agak galak, soalnya terlihat dia sangat gusar sekali”.
Akupun sebenarnya sudah mulai kepanasan, tapi sangat malas mengeluh karena supir agkutannya pun tidak akan menghiraukan keluhan kita. Supir angkutan disini memang sangat semena-mena. Melaju di jalan raya dengan sesuka hati, berhenti untuk mengambil penumpang tidak pada tempat yang semestinya, menimbulkan kemacetan, belum lagi supir angkutan yang ugal-ugalan. Sangat membuat kita dongkol memang, tapi mau di apa lagi, kita membutuhkan jasa mereka untuk mengantarkan kita menuju tempat tujuan. Kebanyakan masyarakat yang sangat uring-uringan dengan supir-supir ini. Ternyata tidak semua yang seperti itu, pagi ini aku melihat sendiri supir angkutan yang betapa baik dan perhatian terhadap orang-orang sekitar. Di tengah penumpang yang mengeluh kepanasan, ada yang teriak menyuruh si bapak supir untuk jalan, tiba-tiba saja tepat disamping pintu terlihat pengemis yang cacat, kaki bapak pengemis itu buntung, dengan duduk di sebuah papan yang diberi roda bapak pengemis itu mengayuh papan berodanya menggunakan sebelah tangannya, dan tangan sebelahnya lagi memegang sebuah kaleng yang kuduga digunakan sebagai tempat orang menaruh uang untuk bapak itu. Tiba-tiba si bapak supir memberikan selembar uang pecahan seribu kepada bapak pengemis itu. Penumpang yang melihat kejadian itu langsung tercekat. Mulut mereka seakan terkunci rapat-rapat. Nyeesssss….hati mereka langsung luluh. Ternyata bapak supir itu dari tadi menunggu bapak pengemis itu. Tampak rona wajah yang malu dari mereka yang ada disampingku. Mahasiswi-mahasiswi yang sedang sibuk dengan rambutnya yang sudah mulai berantakan, make up nya yang luntur karena keringat. Semuanya merasa malu, karena melihat bapak supir yang begitu perduli dengan bapak pengemis itu. Sedangkan mereka belum tentu mau merelakan uang mereka untuk pengemis. Uh…malu rasanya aku. Ya Allah ternyata masih ada juga orang yang kondisi ekonominya tidak terlalu bagus tapi masih bisa memperhatikan yang ada dibawahnya. Sedangkan aku yang serba kecukupan sering bertemu dengan bapak pengemis itu, tapi aku tidak pernah memberinya sepeserpun. Ya Allah…aku malu pada-Mu, malu pada bapak supir itu. Setelah dia memberikan uang bapak supir langsung menjalankan kendaraannya masuk ke kampus, ternyata tidak semua supir angkutan itu menyebalkan, contohnya si bapak supir ini. Dia masih bisa memikirkan orang yang lebih membutuhkan, masih memiliki naluri kasih sayang terhadap sesama. Pagi ini aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang supir angkutan umum, bahwa ‘kita tidak akan pernah merasa cukup bila kita melihat diatas kita’, ‘rejeki yang kita dapatkan tidak semua menjadi hak kita, sebagia merupakan hak orang-orang yang membutuhkan’, ‘bahwa tidak semua pelajaran penting kita dapat peroleh dari guru-guru besar atau orang sukses saja, tapi juga dari seorang supir angkutan umum’. Terimakasih Ya Allah,,,Kau telah memberikan aku pelajaran penting pagi ini. Semoga aku bisa lebih peka lagi terhadap sekeliling aku.

Tidak ada komentar: