everything begining from here

everything begining from here

Jumat, 29 Oktober 2010

KAU ADA



(13 Mei 2008)
Hari ini doni berangkat ke Kalimantan dalam rangka tugas dari kantor. Dia kerja sebagai karyawan disalah satu perusahaan konsultan teknik. Doni harus meninggalkan ku selama 2 bulan lamanya.  Hemm…memang tidak terlalu lama sih, tapi aku sedikit takut dengan cerita-cerita teman kampus aku tentang LDR itu, maklum selama 3 tahun menjalin hubungan dengannya baru kali ini dia pergi segitu lama dan jauhnya. Sampai keluar pulau. Rasa was-was sedikit menggelitik aku, tapi aku tetap percaya dengannya. Toh selama ini memang dia tidak pernah macam-macam juga kok. “Take care pom-pom… “(nama kesayangan yang aku kasih ke cowok yang berbadan agak buntel itu.
09 Juni 2008, 20.00 WITA
Tidak terasa hampir sebulan Doni berada jauh disana. “Kangen juga dengan pom-pom itu, dia lagi ngapain yah…? biasanya jam segini dia udah nelpon, tanya lagi makan apa atau mengajak keluar untuk cari camilan (hehehe dasar pom-pomku itu………kangeeeeennnnnnnnn).” Tapi masih harus sabar menunggu sebulan lagi untuk bisa ketemu dia. Akhirnya kuputuskan untuk menelponnya,
“Halo…pom, kamu lagi ngapain?”
Samar terdengar suara dari seberang sana,
“Iya yu…ada apa?”
“Oh nggak, aku lagi kangen aja ama kamu. Gimana kerjaan kamu disana? Kamu jadi pulang bulan depan kan? Semuanya lancar-lancar saja pom??? Kamu baik-baik yaahhh….jangan lupa sholat pom-pomku….”
Aku terus saja cerocos, dan tiba-tiba,
“yu, kamu ini kenapa sih? Bawel amat...! udah deh, aku baik-baik aja.” Tuuut…tuuutt…tuuuttt..
Tiba-tiba ia memutuskan teleponnya setelah membentak aku. “Astaga dia kenapa? Apa ada masalah? Apa tadi ada kata-kata aku yang salah? Tidak biasanya Doni bersikap kasar seperti itu ke aku.” Pikaranku mulai aneh, aku sudah mulai curiga dengan dia, “jangan-jangan…ah masa iya sih…? Tapi kenapa bisa seperti ini…” air mata ini pun mengalir. Baru kali ini dia membentak aku.
***
(30 Juni 2008)
Semenjak hari itu aku marah dan memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi. Dia pun tidak berusaha untuk menghubungiku. Sudah 3 minggu sejak kejadian itu. Aku bingung dengan sikapnya, “kenapa secepat itu sih dia berubah? Tuhan…ada apa sebenarnya? Apa dia ada sudah tidak ada perasaan terhadapku? Atau ada orang lain?” lagi-lagi aku menangis karena aku tidak bisa berbuat apa-apa. Akupun tidak mungkin menyusulnya, tidak mungkin aku menginggalkan kuliahku.
“ayu, kamu kenapa? Ibu dari tadi ngomong sama kamu, malah kamu cuekin? Kamu lagi sakit nak?” Tanya ibuku yang bingung melihatku melamun dengan tatapan kosong.
“ah tidak bu, Ayu tidak kenapa-kanapa…Ayu pamit ke kampus dulu yah bu…(sambil mencuim tangan ibuku) assalamualaikum…”
“walaikumsalam…hati-hati nak…”
Aku pun berangkat ke kampus dengan mengendarai sepeda motor kesayanganku. Pagi itu jalanan di kota Makassar sangat padat, macet dimana-mana. Semua kendaraan bermotor saling berlomba untuk sampai ditempat tujuan. Kendaraan saling salip-menyalip. Suara klakson kendaraan memecah hening pagi hari ini. Aku sangat pusing, “duh, macet…bisa-bisa telat sampainya kalau begini…” dan tiba-tiba, “Dubraaaakkkk………………..” motorku ditabrak oleh pengemudi lain dari arah belakang yang membuat aku terpelanting ke depan dan menghantam tratorar dan tidak sadarkan diri. Aku dibawa oleh warga sekitar menuju rumah sakit terdekat, dan orang yang menabrak aku langsung di amankan di kantor polisi. Yah, kepalaku membentur tratoar sangat keras sehinggah kaca pelindung yang ada di helm aku retak dan masuk mengenai mataku. Sejak kejadian itu aku kehilangan penglihatanku, duniaku sangat gelap-gulita, putus-asa itu yang kurasakan saat itu. “Tidak ada gunanya lagi aku hidup, hanya menjadi benalu saja,” gumamku sambil menangis dalam pelukan ibuku. Ibu berusaha menenangkan aku dan terus memberiku semangat, agar aku bisa melanjutkan hidupku. “Tuhan apa yang sebenarnya Kau mau? apa yang Kau rencanakan, setahun yang lalu kau mengambil ayah yang paling aku sayangi, terus Doni yang entah kemana, dan sekarang mataku pun buta!” Aku terus saja memberontak dan menangis, “kenapa harus saya yang mengalaminya?”
“nak kamu yang sabar yaahh…Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan hamba-Nya. Kamu pasti bisa nak…” ku dengar suara ibu yang berat seperti menahan tangisnya. Ku tahu ibu tidak ingin aku mendengar tangisannya, dia selalu terlihat kuat agar akupun ikut kuat, sejak ditinggal oleh ayah, ibu menjadi sangat kuat. Ku tahu beliau sangat terpukul, sangat sakit, tapi ibu selalu memperlihatkan senyumannya. “maafkan ayu bu….”
***
Kulalui hari-hariku dengan penuh harapan, tidak ingin membuat ibu sedih lagi, maka akupun harus kuat. Sampai saat ini pun Doni tidak pernah lagi ada kabarnya. Tapi ku tetap menguatkan hati ini, aku tidak boleh lagi mengingat-ingat dia. Aku memutuskan untuk melupakannya dan memulai lembaran baruku lagi, melanjutakan hidupku dan mengejar cita-citaku, tanpa doni…!
(02 Desember 2008)
Kabar yang sangat menggembirakan aku dan ibu, dokter yang selama ini merawatku mengatakan kalau ada yang mau mendonorkan matanya untukku dan kebetulan cocok, tidak ingin membuang-buang waktu ibu pun langsung menerimanya dan menandatangani surat perjanjian yang diberikan oleh dokter. Ibu sangat senang, begitu pula aku “Tuhan maafkan aku yang selama ini telah menyalahkan-Mu…” tidak terasa air mataku jatuh.
(13 February 2009)
Pagi yang cerah, senang akhirnya aku bisa melihat suasana pagi lagi, tidak henti-hentinya kumengucap syukur pada Yang Kuasa. Kusiap memulai hariku lagi, karena masih dalam tahap pemulihan, aku masih belum bisa masuk kuliah. Aku hanya beraktivitas di rumah, membantu ibu dan merapikan kamarku yagng sudah berbulan-bulan tidak terurus, tengah ku merapikan kamar ku tiba-tiba kotak besar terjatuh dan mengagetkanku. Aku terpaku sejenak menatap kotak besar itu, dan akhirnya kugapai dan kubuka kembali. Dalam kotak itu semua kenangan tentang doni tersimpan. Semenjak kehilangan dia semua barang-barang yang mengingatkanku padanya memang kusimpan baik-baik. Pom-pom ku itu kini telah tiada. Dia meninggal karena penyakit liver yang telah lama ia derita dan tidak satu pun orang terdekatnya yang mengetahui, termasuk aku sendiri namun selain penyakit itu doni juga hobesitas. Itulah sebabnya ia menjauhiku, doni tidak ingin kepergiannya membuatku sedih, seperti dulu ayah meninggalkan aku dan ibu. Doni tidak ingin aku terpuruk lagi, sementara ia tidak bisa menemaniku lagi. Dan sejak ia mendengar kabar tentang kecelakaanku kondisinyapun semakin buruk. Doni menitip pesan pada papa-mamanya kalau ia telah tiada ia ingin mendonorkan matanya padaku. “Kini kudapat melihat dunia kembali dengan matamu pom-pomku….kau akan selalu ada, semoga  kau tenang disana pom-pomku, do’aku senantiasa ku kirimkan” (air mataku mengalir mengenang semuanya).
”pom-pom…hari ini kau ingat??? Di hari yang sama dua tahun lalu kau memintaku untuk bertungan denganmu” ku lagi-lagi meneteskan air mata di depan nisan Doni.
Tuhan, jika tidak Kau restui kami bersama di kehidupan ini, maka restuilah kami bersama di kehidupan mendatang, di sisi-Mu Tuhan ku…..

_Miftah_
 

Tidak ada komentar: