(13 Mei 2008)
Hari ini doni berangkat ke Kalimantan dalam rangka tugas
dari kantor. Dia kerja sebagai karyawan disalah satu perusahaan konsultan
teknik. Doni harus meninggalkan ku selama 2 bulan lamanya. Hemm…memang tidak terlalu lama sih, tapi aku
sedikit takut dengan cerita-cerita teman kampus aku tentang LDR itu, maklum
selama 3 tahun menjalin hubungan dengannya baru kali ini dia pergi segitu lama
dan jauhnya. Sampai keluar pulau. Rasa was-was sedikit menggelitik aku, tapi
aku tetap percaya dengannya. Toh selama ini memang dia tidak pernah macam-macam
juga kok. “Take care pom-pom… “(nama kesayangan yang aku kasih ke cowok yang
berbadan agak buntel itu.
09 Juni 2008, 20.00 WITA
Tidak terasa hampir sebulan Doni berada jauh disana. “Kangen
juga dengan pom-pom itu, dia lagi ngapain yah…? biasanya jam segini dia udah
nelpon, tanya lagi makan apa atau mengajak keluar untuk cari camilan (hehehe
dasar pom-pomku itu………kangeeeeennnnnnnnn).” Tapi masih harus sabar menunggu
sebulan lagi untuk bisa ketemu dia. Akhirnya kuputuskan untuk menelponnya,
Samar terdengar suara dari seberang sana,
“Iya yu…ada apa?”
“Oh nggak, aku lagi kangen aja ama kamu. Gimana kerjaan kamu disana? Kamu
jadi pulang bulan depan kan? Semuanya lancar-lancar saja pom??? Kamu baik-baik
yaahhh….jangan lupa sholat pom-pomku….”
Aku terus saja cerocos, dan tiba-tiba,
“yu, kamu ini kenapa sih? Bawel amat...! udah deh, aku baik-baik aja.”
Tuuut…tuuutt…tuuuttt..
Tiba-tiba ia memutuskan teleponnya setelah membentak aku. “Astaga dia
kenapa? Apa ada masalah? Apa tadi ada kata-kata aku yang salah? Tidak biasanya
Doni bersikap kasar seperti itu ke aku.” Pikaranku mulai aneh, aku sudah mulai
curiga dengan dia, “jangan-jangan…ah masa iya sih…? Tapi kenapa bisa seperti
ini…” air mata ini pun mengalir. Baru kali ini dia membentak aku.
***
(30 Juni 2008)
Semenjak hari itu aku marah dan memutuskan untuk tidak
menghubunginya lagi. Dia pun tidak berusaha untuk menghubungiku. Sudah 3 minggu
sejak kejadian itu. Aku bingung dengan sikapnya, “kenapa secepat itu sih dia
berubah? Tuhan…ada apa sebenarnya? Apa dia ada sudah tidak ada perasaan
terhadapku? Atau ada orang lain?” lagi-lagi aku menangis karena aku tidak bisa
berbuat apa-apa. Akupun tidak mungkin menyusulnya, tidak mungkin aku menginggalkan
kuliahku.
“ayu, kamu kenapa? Ibu dari tadi ngomong sama kamu, malah kamu cuekin? Kamu
lagi sakit nak?” Tanya ibuku yang bingung melihatku melamun dengan tatapan
kosong.
“ah tidak bu, Ayu tidak kenapa-kanapa…Ayu pamit ke kampus dulu yah bu…(sambil
mencuim tangan ibuku) assalamualaikum…”
“walaikumsalam…hati-hati nak…”
Aku pun berangkat ke kampus dengan mengendarai sepeda
motor kesayanganku. Pagi itu jalanan di kota Makassar sangat padat, macet
dimana-mana. Semua kendaraan bermotor saling berlomba untuk sampai ditempat
tujuan. Kendaraan saling salip-menyalip. Suara klakson kendaraan memecah hening
pagi hari ini. Aku sangat pusing, “duh, macet…bisa-bisa telat sampainya kalau
begini…” dan tiba-tiba, “Dubraaaakkkk………………..” motorku ditabrak oleh pengemudi
lain dari arah belakang yang membuat aku terpelanting ke depan dan menghantam
tratorar dan tidak sadarkan diri. Aku dibawa oleh warga sekitar menuju rumah
sakit terdekat, dan orang yang menabrak aku langsung di amankan di kantor
polisi. Yah, kepalaku membentur tratoar sangat keras sehinggah kaca pelindung
yang ada di helm aku retak dan masuk mengenai mataku. Sejak kejadian itu aku
kehilangan penglihatanku, duniaku sangat gelap-gulita, putus-asa itu yang
kurasakan saat itu. “Tidak ada gunanya lagi aku hidup, hanya menjadi benalu
saja,” gumamku sambil menangis dalam pelukan ibuku. Ibu berusaha menenangkan
aku dan terus memberiku semangat, agar aku bisa melanjutkan hidupku. “Tuhan apa
yang sebenarnya Kau mau? apa yang Kau rencanakan, setahun yang lalu kau
mengambil ayah yang paling aku sayangi, terus Doni yang entah kemana, dan
sekarang mataku pun buta!” Aku terus saja memberontak dan menangis, “kenapa
harus saya yang mengalaminya?”
“nak kamu yang sabar yaahh…Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas
kemampuan hamba-Nya. Kamu pasti bisa nak…” ku dengar suara ibu yang berat
seperti menahan tangisnya. Ku tahu ibu tidak ingin aku mendengar tangisannya,
dia selalu terlihat kuat agar akupun ikut kuat, sejak ditinggal oleh ayah, ibu
menjadi sangat kuat. Ku tahu beliau sangat terpukul, sangat sakit, tapi ibu
selalu memperlihatkan senyumannya. “maafkan ayu bu….”
***
Kulalui hari-hariku dengan penuh harapan, tidak ingin
membuat ibu sedih lagi, maka akupun harus kuat. Sampai saat ini pun Doni tidak
pernah lagi ada kabarnya. Tapi ku tetap menguatkan hati ini, aku tidak boleh
lagi mengingat-ingat dia. Aku memutuskan untuk melupakannya dan memulai
lembaran baruku lagi, melanjutakan hidupku dan mengejar cita-citaku, tanpa doni…!
(02 Desember 2008)
Kabar yang sangat menggembirakan aku dan ibu, dokter yang
selama ini merawatku mengatakan kalau ada yang mau mendonorkan matanya untukku
dan kebetulan cocok, tidak ingin membuang-buang waktu ibu pun langsung
menerimanya dan menandatangani surat perjanjian yang diberikan oleh dokter. Ibu
sangat senang, begitu pula aku “Tuhan maafkan aku yang selama ini telah
menyalahkan-Mu…” tidak terasa air mataku jatuh.
(13 February 2009)
Pagi yang cerah, senang akhirnya aku bisa melihat suasana
pagi lagi, tidak henti-hentinya kumengucap syukur pada Yang Kuasa. Kusiap
memulai hariku lagi, karena masih dalam tahap pemulihan, aku masih belum bisa
masuk kuliah. Aku hanya beraktivitas di rumah, membantu ibu dan merapikan kamarku
yagng sudah berbulan-bulan tidak terurus, tengah ku merapikan kamar ku
tiba-tiba kotak besar terjatuh dan mengagetkanku. Aku terpaku sejenak menatap
kotak besar itu, dan akhirnya kugapai dan kubuka kembali. Dalam kotak itu semua
kenangan tentang doni tersimpan. Semenjak kehilangan dia semua barang-barang
yang mengingatkanku padanya memang kusimpan baik-baik. Pom-pom ku itu kini
telah tiada. Dia meninggal karena penyakit liver yang telah lama ia derita dan
tidak satu pun orang terdekatnya yang mengetahui, termasuk aku sendiri namun
selain penyakit itu doni juga hobesitas. Itulah sebabnya ia menjauhiku, doni
tidak ingin kepergiannya membuatku sedih, seperti dulu ayah meninggalkan aku
dan ibu. Doni tidak ingin aku terpuruk lagi, sementara ia tidak bisa menemaniku
lagi. Dan sejak ia mendengar kabar tentang kecelakaanku kondisinyapun semakin
buruk. Doni menitip pesan pada papa-mamanya kalau ia telah tiada ia ingin
mendonorkan matanya padaku. “Kini kudapat melihat dunia kembali dengan matamu
pom-pomku….kau akan selalu ada, semoga kau
tenang disana pom-pomku, do’aku senantiasa ku kirimkan” (air mataku mengalir
mengenang semuanya).
”pom-pom…hari ini kau ingat??? Di hari yang sama dua tahun lalu kau
memintaku untuk bertungan denganmu” ku lagi-lagi meneteskan air mata di depan
nisan Doni.
Tuhan, jika tidak Kau restui kami bersama di kehidupan ini, maka restuilah
kami bersama di kehidupan mendatang, di sisi-Mu Tuhan ku…..
_Miftah_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar