Tidak terasa 4 tahun 5 bulan selama kuliah telah kulewati
dan kini saya berhasil menyelesaikan studi dan semua itu berkat ijin dan ridha
dari Allah SWT, orang tua dan orang-orang terdekat. Terimakasih Ya Allah, atas
segala yang Engkau telah berikan kepadaku selama ini dan kemudahan yang selalu
menyertai, begitu banyak dukungan yang saya dapat selama menjelang ujian akhir
pada tanggal 10 Februari 2011 kemarin. Perhatian yang luar biasa dan do’a-do’a
yang senantiasa mereka panjatkan untuk kelancaran urusanku. Semua itu membuatku
lebih bersemangat dan lebih tenang menghadapi ujian. Dan ada satu orang juga
yang tidak lepas senantiasa memberikan nasihat kepadaku agar tidak berburuk
sangka kepada Yang Kuasa, yaitu K’ Didi. Dia yang selalu menyuplai energi baru.
“Thank’s so much kak.” Dia yang sampai saat ini mengingatkanku tentang
rencana-rencana kedepannya. Tentang pentingnya sebuah rencana dalam kehidupan,
agar tidak berhenti untuk bermimpi dan berusaha mewujudkannya.
Masih teringat dengan jelas saat pertama kali menjadi
seorang maba (mahasiswa baru) di Universitas Hasanuddin, saya mengambil jurusan
akuntansi pada fakulatas Ekonomi. Ini adalah pilihan bunuh diri buatku, pilihan
yang dipaksakan oleh ibu. Awalanya saya bercita-cita menjadi seorang arsitek,
tapi ada daya Allah menakdirkan lain, saya tidak lulus. Maka saya berniat masuk
ke jurusan favoritku yang kedua yaitu farmasi. Tapi dibantah kuat-kuat oleh
ibu. Saat itu memang sering terjadi pertentangan antara saya dan ibu. Semua
pilihanku ditentang oleh ibu, katanya kalau mau mengambil jurusan kesehatan
jangan tanggung-tanggung, sekalian saja masuk kedokteran. Air mataku jatuh
setiap berdebat dengan ibu saat itu tapi hati tetap menghargai dan menyayangi
beliau. Akhirnya saya mengalah dan mengikuti kemauannya mengambil jurusan
akuntansi.
Kenapa saya mengatakan akuntansi itu jurusan bunuh diri,
karena sejak duduk dibangku sekolah saya tercatat sebagai siswa yang sama
sekali tidak bisa memahami materi akuntansi, pembukuan, keterampilan jasa dan
sejenisnya. Kalaupun ada yang bisa aku mengerti pastinya dengan waktu lama dan
mudah terlupa. Berbeda dengan pelajaran lainnya. Bahkan terkadang yang mengajari teman-teman yang kurang paham
adalah saya. Karena menyadari kekurangan itu saya tidak percaya diri dengan
kemampuan saya untuk melanjutkan study dijurusan akuntansi. Tapi melihat
dorongan ibu yang begitu yakin anaknya bisa, maka sayapun mencoba agar
keyakinan ibu menjadi kenyataan. Awal-awal semester saat menjadi maba sangat
berat bagi saya. Ibu pun setia menjadi tempat curhat saat saya mulai kewalahan
dan patah semangat menghadapi matakuliah
yang sukar saya mengerti. Tidak luput teman-teman kuliah saya menjadi korban,
setiap malam jika ada tugas membuat laporan keuangan dari sekian banyak transaksi
pasti saya akan menelepon seorang teman yang memang terhitung cerdas, dia
adalah Agung. Tiap kali tugas datang menghampiri, handphone Agung selalu siap sedia untuk saya hubungi, tidak
tanggung-tanggung sampai jam 3 dini hari saya berkonsultasi tentang tugas
kuliah. Orang rumah juga tidak keberatan, karena mereka tahu saya seperti ini
sebagai bukti nyata bahwa saya mau belajar mengenal akuntansi. Sampai akhir
semester awal ujian demi ujian saya lalui. Dan begitu hasilnya keluar puji
syukur terhadap Allah, Rabb-ku yang memberiku kemampuan melewati ujian dan
hasilnya cukup memuaskan untuk saya, IP 3,28 berhasil kudapatkan dengan kerja
keras dan dukungan dan do’a ibu bapak dan teman-temanku. Rasa percaya diriku
mulai tumbuh, semester selanjutnya saya mengambil mata kuliah penuh (24 SKS)
dan hasilnya kembali lagi memuaskan, dengan IP 3,56. Semakin mantaplah saya
untuk tetap bertahan, padahal sebelumnya ibu sudah memberikan penawaran untuk
pindah jurusan. Tapi rasa penasaran dan gengsi (tidak mau terlihat lemah dan
pasrah depan ibu) saya bersikukuh untuk berjuang.
Menjadi mahasiswa akuntansi bukan hal yang mudah bagiku,
tapi sifat dasarku yang menyukai tantangan membuat benteng pertahanan yang saya
bangun semakin kokoh, meski sesekali roboh (IP jeblok), tapi tetap saya
tersenyum dan bangkit untuk memperbaikinya kembali.
Tiba disaat akhir menjelang penyelesaian study S1 saya,
kembali angin topan menghempas semangat saya dan berhasil mengabaikan skripsi
selama 1 semester. Kesalahan yang sangat fatal yang pernah saya lakukan.
Penyesalan tinggal penyesalan tidak ada gunanya saya renungi. Melihat
teman-teman sudah lebih dulu mendapatkan gelar “SE” membuat saya bersemangat
kembali, belum lagi membayangkan harapan ibu dan bapak yang sudah tidak sabar
ingin melihat anaknya memakai toga. “chayoooo yan…lakukan sekarang jugaaa…”SE”
menanti!”
Saat menjelang ujian komprehensif dan ujian mejapun
semakin dekat, saya dan teman-teman semakin giat bertemu dan belajar bersama
sampai larut malam, dan menunjuk satu rumah untuk dijadikan tempat karantina
kami. Materi demi materi kami bahas dan lumat mentah-mentah, tidak ada lagi
toleransi, bersikap tegas dengan diri sendiri, menghapus agenda jalan-jalan
selama proses karantina berlangsung, menjaga waktu-waktu tidur dan pola makan,
dan menggalakkan waktu belajar. Tidak jarang kami tiba-tiba menangis saat
keputus asaan mulai menggoda kembali, belum lagi pembimbing skripsi yang kadang
bersikap acuh, padahal ujian semakin dekat dan skripsi belum Acc. Oh Tuhaaaan,
mau menjerit sekuat-kuatnya.
Hari yang dinantipun tiba, udara dikampus terasa hampir habis dihirup dalam-dalam oleh kami peserta ujian.
Warna muka kami hampir sama pucat pias, darah terasa mengalir turun ke tumit
dan jantung saking kerasnya berdetak seakan mau jatuh sampai ke dengkul.
Perasaan tidak keruan lagi. Fokus kami saat itu hanya pada ujian. Bising tidak terdengar
lagi, panas tidak terasa lagi ketika matahari mulai memperlihatkan
keganasannya. Semua panca indra seakan mati rasa. Menunggu antrian nama kami
dipanggil oleh penguji.
Saat penentuan kelulusan pun tiba, saya dan teman-teman
seperjuangan saat karantina LULUS ujian komprehensif dan ujian meja. “Ya Rabb,
sungguh kasih sayangmu…selalu ada kemudahan yang KAU berikan setelah kesulitan.
Maka nikmat Allah yang manakah yang akan kau ingkari?”
Segera saya mengabari ibu dan bapak mengenai kelulusan
yang berhasil saya raih, dan dari kejauhan, lewat frekuensi gelombang terdengar
tangisan ibu pecah, bisa kutangkap arti yang tersirat dari tangisan itu.
Terselip kebahagiaan, rasa haru menyeruak seketika, dadak ini tiba-tiba sesak
dan air mata tak terbendung lagi. Terlebih setelah ibu mengatakan bahwa beliau
belum tidur dari semalam karena begadang mendo’akan saya yang akan menempuh
ujian. “terimakasih ibu….”
Tidak cukup sebulan setelah menyandang gelar sarjana
sekaligus pengangguran saya diterima sebagai seorang trainer disalah satu Bank
Asing “DBSI” cabang Makassar. Sehari bekerja tawaran demi tawaran pun
berdatangan dari berbagai perusahaan baik itu perbankan maupun finance dengan berbagai posisi. Tapi
saya tetap memilih sebagai trainer di DBSI. Akhirnya saya menyadari bahwa
tujuan ibu memaksaku mengambil jurusan akuntansi saat saya ingin masuk perguruan tinggi itu
sangat beralasan. Karena lulusan akuntansi banyak dibutuhkan diberbagai lapangan
kerja. Dan itu telah saya buktikan sendiri, tinggal kita yang berusaha
menunjukkan bahwa kita mampu bersaing dalam dunia kerja atau tidak.
“Ibu, sungguh saya akan menyesal dan mengutuk diri
sendiri seandainya dulu tidak mau mendengarkanmu. Meskipun awalnya semua
kujalani dengan kurang ikhlas karena paksaanmu, tapi seiring jalannya waktu aku
pun bersyukur atas pilihan Allah yang dipilihakan melalui dirimu bu.” Air
mataku berlinang, dalam do’aku panjatkan do’a agar masih diberi kesempatan agar
bisa memberikan sesuatu yang membanggakan untuk bapak dan ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar