Ini adalah sebuah pengakuan tulus dari seseorang yang hemmm cukup polos mungkin, *karena mau menceritakan sedikit dari sekian banyak kejadian memalukan yang pernah dia perbuat* Cerita dimulai saat kami dalam perjalanan mencari makan sepulang kantor.
***
Waktu itu Ari yang masih berusia 7 tahun dikunjungi oleh tante dan saudara sepupunya. Mereka tiba di rumah Ari sekitar pukul 8 malam, dengan riang Ari dan adiknya menyambut saudara sepupunya, dan langsung mengajaknya bermain. Ari kecil sangat senang berkumpul dengan saudara sepupunya itu, dan bisa bercerita banyak hal. 30 menit berlalu Ari dipanggil oleh mamanya.
“Rie…sini dulu nak..” terdengar suara mamanya dari arah dapur.
“iya ma…” jawab Ari sambil berlari menuju arah suara mamanya.
“Rie, tante dan sepupumu kan belum makan. Dan makanan udah habis, soalnya mereka datangnya telat…jadi kamu mau nggak tolongin mama…”
“apa ma…?”
“ini ada duit Rp 5.000, kamu beli sate di depan kompleks yah…”
“oh, okeeee ma…siap..!” sambil mengambil uang dari tangan mamanya, dan memperagakan gerakan orang lagi hormat, tanda Ari siap melaksanakan tugasnya. Ari pun memanggil adik dan ke 3 sepupunya untuk menemaninya membeli sate di depan kompleks. Mereka tertawa dan saling kejar-kejaran sepanjang jalan yang sudah sepi dimalan hari. Setibanya di tempat jual sate, Ari berdiri di samping Abang penjual sate dan memesan sate sesuai permintaan mamanya. Sementara adik dan sepupunya menunggu di bangku panjang yang disediakan oleh Abang tukang satenya, untuk para pelanggannya.
“Bang, satenya 20 tusuk, dibungkus yah..”
“iya de’…” sambil mulai membakar sate pesanan Ari. Selang 15 menit, sate pesanan Ari pun mulai dibungkus. Melihat sate itu mulai dibungkus, adik dan sepupu-sepupu Ari berlari menuju rumah dan meninggalkan Ari. Melihat saudara-saudaranya meninggalkannya, Ari yang telah mendapatkan bungkusan satenya, buru-buru mengejar saudaranya, dan sambil tertawa mereka berjalan beriringan. Tidak lama kemudian Ari menyadari kalau dia melupakan sesuatu,
“waaaahhh, saya lupa minta kembaliannya tadi” sambil menepuk dahinya, dan berputar arah kembali ke tempat penjual sate itu.
“wah cepat diambil, baru kita pulang Rie... Laparrr…” seru salah satu sepupunya.
Sesampainya di tukang sate, “bang, saya lupa ambil kembaliannya…” dengan napas yang tersengal-sengal. Mendengar pernyataan Ari, Abang penjual satenya tiba-tiba marah kepada Ari.
“hey, ini anak…! Bayar juga nggak, tiba-tiba minta kembalian…! Mau kusate juga ini” Mendengar suara penjual sate yang menggelegar, Ari jadi gemetaran, dan cepat-cepat memeriksa kantong celananya. Dan ternyata dia menemukan uang Rp 5.000 masih utuh, deggg..keringat ari mulai bercucuran. Rasa takut dan sekaligus malu bercampur aduk.
“ma ma ma maaf Bang….saya lu lu lu lupa…” jawab Ari terbata-bata saat menyerahkan uang sate.
“lain kali awas lagi yah…aku sate beneran kamu!!!”
“iya Bang…” dan Ari pun langsung berlari mengejar saudara-saudaranya.
Setelah kejadian malam itu, Ari tidak mau lagi membeli sate di tempat itu, dia takut dan masih trauma melihat muka penjual sate yang galak.
***
Cerita 2: VW oh… VW Suatu hari Ari diminta menemani kakak sepupunya (sebut saja dia Imam) untuk ke Maros mengambil kiriman. Waktu itu Ari telah duduk di kelas 4 SD dan Imam kelas 2 SMA.
“Ari, ikut yukk…Om Heri minta tolong diambilkan barangnya dirumah temannya. Kita bawa mobil Om Heri saja. Sekalian jalan-jalan”
“ayo kak…” Ari langsung beranjak dari tempat duduknya, mengikuti Imam menuju ke garasi, dengan mengendarai sebuah VW milik Om Heri, mereka menuju kearah Maros, dan memasuki perbatasan kota Maros, tiba-tiba saja bunyi aneh dari mobil. Grookk..grookkkk..grookkk..
“kak itu bunyi apa..?”
“wah rie, sepetinya mogok nih mobil..”
“menepi dulu kak, baru liat apanya yang rusak..”
“okay..” sambil menepikan mobil Imam turun dan melihat ada masalah apa dengan mobil VW milik om nya, sementara Ari menunggu di dalam mobil. Dia turun dan membuka kap mobil, betapa terkejutnya Imam mendapati mesin mobil sudah tidak ada. Cepat-cepat dia memanggil Ari dari balik kap mobil.
“rie…cepat kesini, lihat mesinnya tidak ada…”
“ah, coba kak Imam cek lagi, mana mungkin bisa nggak ada…?” Ari yang penasaran pun turun dan melihat. Dia tidak kalah terkejutnya ternyata benar, mesinnya tidak ada lagi.
“jadi gimana rie?”
“aduh ayo kita cari dulu kak mesinnya dimana, siapa tau tercecer dimana, waktu kita jalan.” Sambil celingak-celinguk mencari, dan Imam pun ikut mencari. Tapi sayang hasilnya nihil. Tetap saja mesinnya tidak ditemukan.
“waduuh kak, kena marah kita bisa-bisa…” Ari mulai panik.
“iya rie, saya juga takut nih… apa kita cari telepon umum saja yah,”
“oh iya kak, dari pada bingung, kita telepon Om Heri saja.” *waktu itu Handphone belum terkenal :D* Dalam sambungan telepon:
Imam : “halooo….om, ini Imam…”
Om Heri : “oh, kamu…kenapa nak…? kamu sekarang dimana dengan ade’ mu?”
Imam : “belum sampai om, tapi sudah masuk maros. Tapi om, ada masalah…”
Om Heri : “masalah?”
Imam : “iya om, mobilnya mogok, gara-gara mesinnya nggak ada…!”
Om Heri : “hah…? Jangan main-main kamu Mam…”
Imam : “aduuhh, om, saya serius ini…”
Om Heri : “tunggu dulu, jangan panik nak…coba kamu periksa dulu, coba kamu buka kap mobilnya.”
Imam : “sudah Om, sudah ku periksa…”
Om Heri : “kamu yakinnn…? Mesinnya nggak ada…?”
Imam : “yakin om, Arie juga sudah liat kok…”
Om Heri : “oke, kamu sekarang dibagian mana, sekarang Om menyusul kesana..jangan kemana-mana kalian. Oke…?!”
Imam : “siap Om…!” 2 jam kemudian, Om Heri tiba dan mendatangi kedua keponakannya dalam mobil. “Rie, Mam…baik-baik saja?” sapa Om Heri setibanya di tempat VW itu mogok.
“wah om untung datangnya cepat..” sergah Ari.
“ayoooo, mana yang katanya mesinnya nggak ada…” Tanya Om Heri. Imam yang langsung membuka kap depan mobil dan menunjukkan kepada Om nya.
“hahahahahha……kalian berdua ini yah…” tawa Om Heri tiba-tiba pecah. Kedua orang yang sangat lugu itu bingung setengah mati, melihat om mereka seperti orang gila, tertawa melihat mobilnya rusak!!!? “loh, om…kenapa…” Tanya Imam masih bingung.
“iyalah ketawa….dimana-mana itu VW mesinnya emang bukan didepan Bung…!”
“haaaaaaaaa…..” Ari dan Imam bersamaan menyahut, melongo seperti orang bego. Sambil menggaruk-garuk kepala dan menepis muka merahnya karena malu, Imam bertanya lagi,
“jadiii om, mesinnya dimana donk..? kan tadi Om bilang buka kap mobil..”
“hahahah, iya kap mobil yang dibagian belakang..!”
“hahahah" Ari langsung tertawa mengingat kebodohanya yang mengira mesinnya tercecer
“gimana ceritanya tadi kamu bisa menepi kalau mesin mobilnya jatuh…?” Om Heri masih menahan geli, melihat tingkah kedua keponakannya, yang sudah membuat dia menempuh jarak yang tidak jauh, disiang hari. “heeee….” Keduanya hanya bisa tersenyum…. Setelah kejadian itu, barulah mereka tau, bahwa VW itu mesinnya tidak didepan seperti mobil pada umumnya.
Hemmm, pengakuan yang benar-benar jujur dari seseorang. Dan itu hanya salah satu dari sekian banyak yang dia ceritakan pada saya. Dan saya hanya dapat tertawa mendengar dia bercerita tentang masa kecilnya. “ ternyata pikun dan teledornya udah di pelihara dari kecil, hahaha” gumamku dalam hati. ^_^ *nama tokoh diganti, untuk menjaga perasaan yang bersangkutan.. :D*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar