Pertemuan yang tidak pernah kuharapkan, berkenalan dengan
orang yang sudah menyambarmu sampai terpental ke tanah dan mengalami luka-luka
dibagian kaki dan lengan. Dan orang yang menyambarmu hanya mengatakan “maaf,
saya sedang buru-buru…kalau lukanya parah hubungi kenomor itu saja” dan
kemudian meninggalkan kartu namanya dan berlalu begitu saja. Aaarrrgghhh…. Nggak
banget deh. Jangan sampai aku kenal dengan orang itu. Cukup kesan buruk ini
saja, nggak ada pertemuan yang lainnya….! ”mau kuapakan kartu nama ini?
Sampah!” hujatkaku pada saat mengalami kejadian yang menjengkalkan dengan cowok
yang tidak tau tata cara bersopan santun itu, langsung saja kubuang kartu nama
itu ketempat sampah. Sepanjang jalan menuju rumah aku tidak berhenti ngedumel
sendiri dalam hati dan memaki-maki orang yang baru saja menyambarku.
“ya ampun Al…kamu kenapa? Itu kenapa samapai merah-merah begitu?” wajah
kakakku tampak panik melihat aku datang dengan luka dilengan dan jalan yang
sedikit pincang karena menahan sakit.
“ini semua gara-gara cowok tidak penting yang nyambar aku kak….!” Jawabku
masih dengan wajah yang ditekuk.
“wait...wait...wait…cowok nggak penting? Maksud kamu? Bukannya kamu tadi
dari kampus yah?”
“iya kak.. aku tadi dari kampus, pas perjalanan pulang aku lagi nunggu
angkutan umum, eh tiba-tiba dari belakang ada cowok yang berbadan gede nyabar
aku. huuufft…nggak liat apa ada orang di depannya?! Sukses deh aku mendarat
ditanah.”
“astaga…sini deh kakak obatin dulu lukamu, harus cepat dibersihkan, nanti
infeksi lagi.” sambil mengobati luka-lukaku kakakku terus saja mengintrogasiku.
Macam penjahat saja aku ini.
“kak pelan-pelan dong…sakit…” aku meringis karena perih yang ditimbulkan
dari obat yang diberi oleh kakakku.
“iya, ini juga udah pelan…trus dia kok nggak nganterin kamu pulang? Udah
buat orang memar-memar gini juga????”
“itu dia yang bikin aku gemesss setengah mati kak! Habis nabrak aku dia
hanya bilang kalau dia sedang buru-buru dan dengan jumawanya memberikan kartu
namanya. Nggak penting banget kan…?! Ku buang saja kartu namanya itu.”
“loh kok kamu buang Alyaaa….? Kan bisa kamu hubungi dia kalau-kalau luka
kamu ini parah…”
“iiiihhhh….males deeehhh kak…mending aku obatin di dokter sendiri…aku nggak
mau lagi liat batang hidung cowok yang super menyebalkan kayak dia…!” aku masih
saja berapi-api.
“duuuhh…segitunya..udah donk. Mungkin waktu itu dia bener-bener nggak
konsentrasi jalannya sampai nabrak kamu. Mungkin waktu itu ada keluarganya yang
kena musibah dan harus segera ditolongnya. Makanya dia langsung meninggalkan
kamu. Dia meninggalkan kartu namanya berarti dia masih ada etikad baiknya
Al…kamu harus positif thinking donk sayang….”
“aaahhh….au’ah kak…malasss aku….aku mau istirahat, rasanya remuk badanku
ini. Thank’s ya kak….”
“huuuhh kamu ini… emosian sih….”
Aku terus saja berlalu tidak perduli dengan kata-kata
kakakku barusan. Yang aku butuhkan saat itu hanya tidur pulas. Seharian
menghabiskan waktu dikampus dan menunggu angkutan umum hampir sejam lamanya dan
akhirnya tertabrak oleh cowok itu betul-betul membuat tenegaku terkuras habis.
Malamnya aku dibangunkan oleh mama untuk makan malam, dan
aaaaaaaaahhh…sumpah, bafan seraca remuk, pegal-pegalnya baru terasa begitu
bangun tidur, aku tertidur 1 jam dan huuufft.
“kata Oliv kamu tadi sore habis disambar orang sampai jatuh Al? gimana
lukanya nak?” ibu langsung menanyakan kondisiku begitu aku duduk dan bergabung
dengan keluargaku untuk makan malam.
“iya ma…ini lukanya sih udah diobatin sama kak Oliv tapi pegal-pegalnya
baru terasa tadi begitu mama bangunin Alya.” Jawabky sambil menyendok nasi
kepiringku. Mama hanya tersenyum melihat mukaku sepertinya masih kesal.
“sudah makan yang banyak kalau gitu Al…besok kalau masih terasa perih
lukanya papa antar kamu kedokter yah?!” ujar papa masih dengan wajah yang tenang,
bisa dibilang tanpa ekspresi sama sekali. Papaku memang orang yang sangat
dingin dan tidak terlalu romantis. Untung papa dapat istri seperti mama yang
sabar dan penyayang serta lembut tuturkatanya dan hangat hatinya. Jadi bisa
mengimbangi papa yang dingin seperti
gunung es.
“iya pa….” jawabku singkat, benar-benar malas membahas kejadian itu. Baru
kali pertama aku terjatuh di depan umum seperti tadi, malunya tidak kebayang.
Sifatku yang cepat emosi itu turunan dari papa, beda
dengan kakakku Olivia yang lembut dan selalu berpikiran positif menghadapi
segala sesuatu, seperti mama. Allah memang Maha Adil, menyandingkan mama
sebagai penyeimbang dalam hidup papa.
Keesokan harinya di
kampus
Sebenarnya aku masih malas ke kampus, tapi karena harus
mengurus berkas persiapa KKN aku harus mengumpulkan semangat untuk mengayuhkan
kaki ke kampus yang sangat ramai dan begitu ribut. Aku termasuk orang yang
tidak terlalu suka keramaian yang kurang nyaman berada di dalam keramaian dalam
waktu yang lama. Makanya aku tidak terlalu menyukai rutinitas para cewek yang
umumnya suka menghabiskan waktu di Mall sampai berjam-jam. Bisa kehabisan napas
aku karena tidak tahan akan sesaknya (huweee berlebihan yaahh??? hehehe). Setelah
3 jam bolak-balik dari dari ruangan ke ruangan lain dan mengejar tanda tangan
beberapa pejabat Fakultas yang berhubungan dengan pengesahan program
KKN-Profesi yang aku ambil, aku berniat ke took buku untuk mencari beberapa
refrensi yang berhubungan dengan skripsi aku. semester ini aku harus menyimpan
cadangan semangat yang sangat banyak karena ini adalah semester terakhir aku
menyelesaiakan S1 ku (kalau semuanya lancarrr….).
Pukul 1 siang aku tiba di took buku dan langsung menuju
kebagian rak buku yang menyediakan deretan buku-buku tentang manajemen. Dari
deretan buku-buku, satu demi satu judul aku baca sambil menggeserkan badanku ke
arah kanan. Tengah asiknya ku mencari buku yang kira-kira bisa membantuku untuk
mendapatkan informasi yang jelas berhubungan dengan judul skripsi yang akan aku
angkat, tiba-tiba aku tersenggol oleh seorang cowok dan aku berhasil
menjatuhkan beberapa buku dari tempatnya. Dan semua orang terkejut melihat
aksiku, tapi yang tidak kalah terkejut adalah aku sendiri karena yang menabrak
aku ada orang yang sama yang menabrak aku kemarin.
“heiiii..mata kamu dimana? Apa lagi alasan kamu sekarang? Kartu apa lagi
yang akan kamu kasih ke aku? hahhhh…?!” aku terus saja membentaknya tanpa
memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Suara yang diatas 4 oktav itu sontak
mengundang perhatian para pengunjung ditoko buku itu. Mendengar keributan itu,
salah satu pegawai toko buku itu langsung melerai kami dan mencoba menenangkan
aku. tapi karena kesalnya aku langsung meninggalkan toko buku itu dan
memutuskan untuk pulang. “sial….! Nih kota perasaan luas amat…kenap harus
ketemu dengan orang yang sama dengan waktu yagn berentetan sih…?!” aku terus
saja berceloteh sendiri sambil menuruni escalator, samar kudengar dari arah
belakang seseorang memanggil “hey..kamu tunggu dulu…” tapi aku tidak merasa
bahwa aku yang dipanggil, kuteruskan langkahku menuju tempat anguktan umum
biasanya ngetem. Tiba-tiba seseorang
menggapai lenganku dan mencegatku.
“auhh…ini apaan sih…” aku menoleh karena kesakitan.
“tunggu dulu aku harus meminta maaf sama kamu…”
“arrgghhh…kamu lagi, kenapa yah setiap ketemu kamu aku pasti sial?”
kuhempaskan tangannya cukup keras dan kulanjutkan berjalan dengan langkah yang
sengaja dibuat berirama karena aku benar-benar jengkel tanpa memperhatikan
sekelilingku tiba-tiba, dubraaakkk….aku menabrak tiang dekat halte bus. Setelah
itu aku langsung jatuh dan tidak tau apa yang terjadi lagi.
Sore hari Di sebuah
Rumah Sakit
Begitu sadar aku melihat sekelilingku putih. Ternyata aku
sudah ada dirumah sakit. Cowok rese’ itu yang membawaku keran pingsan setelah cukup
keras menghantam tiang tadi. Benjolan dikepalaku membuatku sangat pusing.
“dok bagaimana keadaan teman saya?” samar kudengar cowok itu berbincang
dengan orang yang kuduga seorang dokter dari setelah jas putih yang ia kenakan.
“tidak kenapa-kenapa kok cuma perlu istirahat saja, dia terlalu capai
sehingga kurang konsentrasi. Benjolan itu akan segera hilang setelah 3-4 hari.
Jangan khawatir, tidak ada dampak yang cukup signifikan dari benturan yang baru
saja dia alami. Sekarang pun kalau mau dibawa pulang boleh. Asalkan sampai
dirumah dia istirahat yang cukup.” dokter mencoba menyakinkan cowok itu.
“baiklah dok, terimakasih. Kalau begitu saya akan menyelesaikan
administrasinya dulu dan membawa dia pulang kerumahnya”
“iya sama-sama”
Dokter itu berlalu disusul cowok itu keluar. Sesaat kemudian cowok itu
kembali dengan seorang perawat.
“Kau bisa jalan sendiri?”
Dan aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala sedikit, karena kepalaku
masih sangat pusing.
“baiklah biar perawat yang membantumu berjalan menuju mobil, aku akan
mengantarkanmu sampai rumah. Bisa lihat KTP mu?”
“mau kau apakan?” pertanyaannya sunggu aneh memaksaku untuk berbicara
akhirnya.
“sudahlah…jangan bantah, aku cuma mau lihat alamat kamu.”
(Sumpah ini cowok udah buat salah mukanya masih sama saja, datar. Tidak
sedikitpun menyiratkan penyesalan karena telah membuatku bonyok-bonyok.) kataku
dalam hati dan dengan terpaksa aku menyerahkan KTPku.
“alamat saja! Jangan lihat yang lainnya!” kataku ketus.
“iya….nih…” jawabnya datar dan kembali menyerahkan KTPku.
Aku tiba dirumah malam hari dan disambut oleh keluargaku yang sudah cemas
sedari sore menungguku pulang. Ponselku pun tidak ku aktifkan.
“ya ampun Al….kamu kenapa nak?” mama panik melihat kepalaku benjol seperti
habis dibegukin.
“assalamu’alaikum tante…om…” sapa cowok itu
(sok ramah…sindirku dalam hati.)
“wa’alaikumsalam…maaf kamu siapa nak? Terus kenapa dengan Alya?”
“maaf tante tadi Alya mebrak tiang cukup keras dan langsung pingsan, tapi
kata dokter tidak apa-apa kok tante, Cuma butuh istirahat saja”
“hey ini gara-gara kamu tau….!” Entah dari mana aku tiba-tiba mendapat
energy untuk membentaknya lagi.
“Alya….!” Suara papa menggelegar tiba-tiba. Bulu kudukku langsung meriding,
dan emosiku yang membuncah tadi langsung menciut kempis seperti balon kehabisan
angin.
“ya sudah….ayo nak masuk dulu…” mama langsung menengahi suasana yang
tegang.
“sini Al…kakak bantuin…” ujar kak Oliv.
Aku masuk ke kamar dituntun oleh kakakku dan cowok itu
dijamu oleh orang tuaku dan kakakku di ruang tamu. Karena kamarku dan ruang
tapu tidak terlalu jauh jadi aku bisa menguping pembicaraan mereka, bahkan
mengintip sedikit.
“maaf tante..om…sebenarnya saya ini yang menabrak Alya sampai luka-luka
kemarin. Saya benar-benar tidak sengaja tante, om…kemarin mama saya lagi
dirawat dirumah sakit karena jantungnya anval, makanya saya Cuma ninggalin
kartu nama ke Alya, berharap dia menghubungi saya. Tapi sampai malam saya tidak
ditelpon makanya saya pikir dia tidak kenapa-kenapa. Tidak tahunya tadi pas di
toko buku saya ketemu dengan dia lagi. dan lagi-lagi saya menabraknya sampai
dia menjatuhkan beberapa buku dari raknya”
“emhihihih….” Terdengar kakakku tertawa kecil. Pasti dia membayangkan
mukaku yang merah padam tadi. Cowok itu masih melanjutkan penjelasannya. Kedua
orang tuaku dan kakakku juga masih setia mendengarkan penjelasan cowok itu.
“begitu tahu kalau yang menyambarnya saya, dia langsung naik pitam memaki
saya dan pergi meninggalkan toko buku, saya sempat mengejar tante om…tapi
begitu saya sempat menahannya dia lantas mengehentakkan tangan saya dan mungkin
karena emosi dia tidak lihat kalau di depannya ada tiang yang berditi tegak.
Yaahh…di tabraknya tiang itu sampai pingsan. Ini salah saya tante om…maafkan
saya…kalau memang Alya masih pusing sampai besok tolong hubungi saya, nomor
saya ada di Alya kok…”
“udah nggak ada…udah dibuang tuh sama si Alya kemarin…” jawab kakakku
sengaja sedikit jutek. (hihihi…kakak bisa juga yah galak sama orang)
“oh kalau gitu ini kartu nama saya” sambil menyerahkan kartu namanya pada
mama.
“baiklah nak…tidak apa-apa, namanya juga nggak sengaja, Alya emang anaknya
gampang emosi, apa lagi akhir-akhir ini dia banyak pikiran, maklum sementara
menyusun tugas akhir dianya.” Ujar mama dan meraih kartu nama yang di sodorkan
cowok itu.
“oh dia lagi menyusun tugas akhirnya yah tan…pantesan gampang emosi…hehehe”
mulai sok asik sepertinya. Manivestasi rasa bersalahnya lenyap sudah.
“kalau emosian emang dari orok nak…hahaha” papa menyela sambil tertawa yang
membuat aku mengkerut. (papa ini…orang turunan dari dia juga…).
“hehehe…dimaklumi kalau gitu om…” Dan mereka berempat pun tertawa.
“oh kamu kerja di Travel yah nak Arya? Benar mana kamu Arya?” mama
mengkonfirmasi informasi yang dia baca
dari kartu nama cowok itu.
“iya tante..kebetulan saya dipercayakan oleh papa utnuk melanjutkan usaha
travelnya.”
“oh…gitu…wah hebat kamu nak..masih muda tapi sudah mau memikirkan masa
depan. Dan berani mengemban tugas berat. Ini perusahaan yang cukup besar juga
loh…” ujar papa (papa berlebihan sepertinya memuji si Arya itu)
“ah tidak juga kok om…saya cuma berusaha memberikan yang terbaik saja.
Masih harus banyak belajar juga om…”
“tapi semuda kamu sudah punya skala prioritas itu hebat loh nak…”
“tidak juga tante…saya dari kecil memang di didik cukup disiplin oleh mama,
namun itu yang membuat saya jadi sangat dekat dengan beliau. Makanya waktu
mendapat kabar mama penyakitnya kambuh saya sangat panik sekali…sampai-sampai
mencelakakan Alya…”
“sudahlah…tidak apa-apa…kan Alya juga tidak parah-parah amat lukanya.
Dianya saja yang agak susah maafin orang. Jadi bagaimana kondisi mama kamu
sekarang?”
“Alhamdulillah om, sudah lumayan baikan. Beliau sudah bisa pulang besok,
sebenarnya hari ini juga bisa, tapi saya minta dia bedrest total hari ini
sambil tetap diawasi perkembangannya oleh dokter.”
“mama kamu pasti bangga punya anak seperti kamu…”
“InsyaAllah tante…” tampak dia tertunduk, sepertinya kepalanya mulai
keberatan saking dibanjiri pujian dari tadi sama papa mama makanya kepala jadi
besar.
“oh ya om…maaf ini sudah malam saya harus pamit pulang dulu, mama saya
sudah kirim sms, nanya saya dimana…”
“oh kamu tidak ikut makan malam dengan kita dulu?” papa menawarkan Arya
untuk ikut makan bersama, sepertinya papa senang ngobrol dengan Arya, tidak
biasanya papa bisa se-wellcome itu dengan laki-laki yang datang kerumah.
“untuk kali ini mungkin tidak dulu om…terimakasih, InsyaAllah kalau ada
waktu saya mampir mencicipi masakan tante…”
“oh baiklah kalau begitu…maaf yah Alya sudah merepotkan kamu. Salam sama
mama papa kamu yah nak…” ujar papa.
“kamu hati-hati yah nak…” mama pun tidak kalah perhatiannya dengan Arya.
Sepertinya mama juga suka ngobrol dengan orang yang sudah membuat anaknya ini
bonyok-bonyok.
“iya tante…om…mari saya permisi dulu…Assalamu’alaikum…”
“wa’alaikumsalam….”
Setelah Arya pulang, seperti biasa mama masuk ke kamar untuk mengajakku
makan malam. Akupun ikut dengan mama. Sejenak suasana ruang makan tampak
tenang, seakan-akan semua larut dengan makanan mereka masing-masing.
“kamu harus minta maaf Al dengan Arya…”
“Arya? Siapa tuh ma?” sengaja memasang sikap pura-pura oon, padahal dari
tadi juga telinga ini udah pangjang saking lamanya nguping pembicaraan mereka.
“itu looh..yang anterin kamu pulang tadi…”
“mama kok malah nyuruh Alya minta maaf ke dia? Kan yang bonyok Alya ma…”
Papa yang biasanya jarang bicara dimeja makan akhirnya bersuara juga.
“kamu ini yah….keras kepala sekali…”
“yee..itu kan turunan dari papa…hihihi” aku menggodanya agar mau tersenyum…
“tapi setidaknya kan kamu bisa memandang beberapa hal dengan bijak Al…”
(sukses…! Papa senyum kecil…hihihi).
“hehehe…turunan papa niyeee….” kak Oliv tidak mau kalah juga rupanya.
“eh kenapa jadi ngegodain papa sih?” papa jadi keki sendiri.
“iya nih….” Mama membela mantan pacarnya juga. Huuuftt…si mama.
“tapi Al kamu kan tidak tahu alasan dia meninggalkanmu kemarin…mestinya
kamu biarkan dia memberi penjelasan donk nak…ini malah kamu maki-maki, jadi deh
jidadnya benjol. Kualat kamu…!” papa malah membela si Arya. Aku hanya diam.
“Al…tidak baik nak menyimpan dendam dengan orang lain. Bisa saja besok lusa
kita yang berbuat begitu keorang lain, tidak menutup kemungkinan kan? Nah pasti
kita juga jadi nggak enak sendiri kalau kena perlakuan seperti kamu ke Arya
tadi.”
“iyaaaa ma…pa…nanti Alya minta maaf kalau gitu…” kalau sudah gini nggak ada
jalan lain selain mengalah. Dikeroyokin gini mana bisa lolos…huumm.
“gitu dooonk…adik kak Oliv….berbesar hati memaafkan orang lain.” Kak Oliv
mencubit pipiku.
“huuuhh…kakak ini gombal….”
“hahahaha…beneran loh de’…”
“sudah-sudah..makan lagi…” papa kembali menjadi semula, kaku…!
Setelah makan malam, aku tidak seperti biasanya yang
membantu mama dan kakak beres-beres. Karena aku diminta untuk istirahat. Aku
langsung menuju kamar dan merebahkan badan kekasurku yang super empuk. Mencoba
menutup mata tapi tidak berhasil, aku terus memikirkan kenapa bisa Arya begitu
gampangnya meluluhkan hati papa? “Aduuhh…pusing…! Ngapain juga harus aku
pikirin? Nggak penting juga.” Setelah tiga kali berotasi diatas tempat tidur
aku akhirnya tertidur juga.
Pagi ini, aku sangat tidak semangat melakukan apa-apa.
Selain karena badanku masih sakit, benjolan yang duduk manis di jidadkupun
sangat mengganggu rutinitasku. Uh…! Masih bermalas-malasan dikamar aku
mendengar mama sedang berbincang dengan seseorang yang suaranya sepertinya masih
asing ditelingaku. “siapa yah?? Masa iya pengantar Koran?? Kan udah jam 8…”
karena penasaran aku memutuskan untuk melihat langsung siapa gerangan, dan aku
tersentak kaget begitu melihat yang datang ternyata…”Arya???” spontan aku
memanggil namanya.
“hi…pagi Al…” dia menyapaku, kali ini dia lumayan cair tidak seperti
kemarin yang super menyebalkan. Tapi aku masih memasang muka cemberut dan
tekanan suarakupun masih ketus.
“pagi! Mau apa kamu pagi-pagi gini bertamu kerumahku?”
“aku cuma mau mastiin kamu sekarang udah baikan. Soalnya mama kamu tidak
ngasih kabar, takutnya kamu buang lagi kartu nama itu, hehehe. Tapi syukur lah
kalau kamu sudah sehat.” Dia memberikan senyum yang begitu tulus, aku jadi
salah tingkah sendiri.
“sudah nak Arya, jangan diambil hati kata-kata Alya yah…nak Arya sudah
sarapan belum? Kebetulan papanya Alya masih ada, belum berangkat ke kantor.
Sarapan sama-sama dulu yuk…”
“iya tante…terimakasih. Tapi saya ada janji mau bertemu kolega papa jam 9
nanti…”
“oh gitu…yah sayang sekali, yah sudahlah, kamu hati-hati yah nak…”
“mohon maaf tante. Salam untuk om…”
“iya nanti tante sampaikan”
“permisi…assalamu’alaikum…”
“wa’alaikumsalam…”
Diapun pergi, ternyata benar dia datang hanya untuk memastikan aku sudah
baikan atau belum. “ah, apa pedulinya? Emang sudah kewajibannya kan?! Wong dia
yang buat aku jadi gini”
“Al…siap-siap gih…sarapan habis itu trus minum obatnya, yah nak…”
“iya ma….” Sembari memberi senyum.
***
Dua bulan setelah kejadian menabrak
tiang dekat hatle itu aku tidak pernah lagi bertemu dengan Arya, akupun sudah
menyelesaikan kegiatan KKN-Profesiku selama dua bulan ini. Tinggal menyusun
laporannya untuk perisiapan seminarnya.
Tiba-tiba didepan pintu rumah langkahku tertahan, kulihat sosok yang selama
dua bulan tidak pernah muncul dan secara spontan dia menampakkan dirinya lagi.
“hi Al…apa kabar? Lama nggak ketemu?”
“hi..iya yah…waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka-lukaku…”
“masih marah yah??? Aku kan udah minta maaf…”
“iya iya iya…aku juga sudah maafin kok…kamu udah lama disini?”
“lumayanlah, dua jam”
“yeee itu bukan lama lagi, tapi kelamaan….” Jawabku sekenanya dan kutinggal
Arya dan kedua orang tuaku menuju kamar.
“Alyaaaa…..” sahut mama, tapi tidak kuhiraukan.
“hehehe, nggak apa-apa kok tante, bawaan dari orok kan…?!”
“hehehe, maaf yah nak…” sahut papa, dia hanya tersenyum.
Ternyata kedatangan Arya ke rumah hendak meminta izin ke
mama dan papa untuk mengajakku keluar, dia mau mengajakku makan malam dan
sekalian menebus kesalahannya kemarin, dengan bujukan mautnya mama akhirnya aku
mau menerima ajakan Arya. Setelah shalat maghrib berjamaah dirumah aku dan Arya
makan malam di salah satu tempat makan favoritnya dengan mamanya. Entah apa
alasan dia mengajak makan malam ditempat itu, berada ditempat ini, tempat dia
dan mamanya biasanya berkencan tiap minggu, ujarnya. tapi tidak rugi juga sih
suasananya nyaman. Arya banyak bercerita tentang kehidupannya, katanya dia
dibesarkan dalam keluarga yang hangat dengan mama yang sangat selektif dan
disiplin dan papa yang perhatian, namun karena papanya sering ada kerjaan
keluar kota jadinya dari kecil Arya lebih dekat dengan mama dan keluarga dari
mamanya dari pada papanya. Bahkan semua kejadian yang dia alami selalu dia bagi
dengan mamanya, oleh karena itu dia nantinya berharap calon pendampingnya bisa
sayang dengan mamanya (kok sampai sini sih arah pembicaraannya???). Setiap
keputusan yang akan dia ambil selalu dia diskusikan dengan mama dan papanya
setelah itu mamanya pasti memberikan dia positif-negatifnya dari pilihan yang
aku kemukakan.
“iya Al…sampai kejadian yang aku nabrak kamu aku juga cerita ke mamaku…”
(hah…? Sampai segitu terbukanya dia dengan mamanya?!)
“terus mama kamu bilang apa?”
“yaahh pastinya aku kena marah Al…karena udah nelantarin perempuan tengah
jalan dalam kondisi luka. Katanya aku tidak bertanggungjawab.” Dia
menceritakannya dengan ekspresif sekali.
“ya iyalahhh….hehehe…aku sependapat dengan mama kamu…” aku mulai merasa
nyaman ngobrol dengan Arya. Tampaknya dia sangat patuh dengan orang tuanya,
hari gini mana ada cowok dengan kesibukan seperti dia mau bela-belain ngurusin
mamanya dan papanya juga.
“iya juga sih…hehehe. Makanya pas kamu kecelakaan mama langsung menyuruh
aku untuk mengantarkanmu pulang, kalau bukan mama yang nyuruh aku pasti
ninggalin kamu lagi. hihihi” (dasar cowok oon…aku timpuk kalau sampai
kejadian…!)
“emang kamu nggak punya saudara yah?”
“aku punya adik tapi usia 13 tahun dia meninggal karena gagal ginjal Al…sejak
itu mama sangat overprotected terhadapku. Dan akhirnya beliau memutuskan untuk
berhenti bekerja dan focus mengurus keluarga. Aku sakit sedikit saja mama
langsung bawa kedokter untuk memastikan kalau aku tidak kenapa-kenapa.”
“waahh..mama kamu benar-benar cekatan yah…aku bisa pahami kok kenapa beliau
seperti itu, kehilangan hal yang berarti dalam hidup itu tidak mudah Ya….dan
mama kamu mutuskan untuk berhenti bekerja juga saya yakin bukan perkara gampang
bagi beliau.”
“iya Al…tapi dia tetap harus memilih, dan akhirnya dia memilih keluarga
nomor satu, lagian percuma juga kalau dia bekerja tapi tidak dirahmati oleh
Allah karena pekerjaan itu membuat seseorang jadi menelantarkan keluarganya yah
sama saja kan..bukannya esensi dari pernikahan itu mencari Ridha Allah…yak
an…mungkin itu yang jadi pertimbangan beliau”
Diam-diam aku mengagumi cara dia berpikir, cara dia menyanjung mamanya, dan
cara dia berperilaku terhadapku sangat sopan, dan tampaknya pemahamannya
tentang agama cukup baik. “Ya Allah ternyata masih ada juga yah orang seperti
ini” gumamku dalam hati. Pantasan saja papa jadi lumer seperti mentega
dipanasin, orang dia cerdas begini. “astaga aku kok jadi muji-muji dia” aku
tiba-tiba jadi salah tingkah tidak keruan.
“oh ya Al…gimana dengan laporan KKN-P kamu, mama kamu bilang udah kelar yah
KKN-Pnya…?!”
“iya Alhamdulillah udah kelar, ini laporannya dikit lagi kelar, dua minggu
lagi diujiankan, mohon do’anya yah…” aku tersenyum padanya
“InsyaAllah Al…kamu pasti bisa. Ayo semangat…Gambatte…!” dia membalas
dengan senyuman juga.
“thank’s…”
“yuukk kita pulang, aku tadi janji sama papa mama kamu bakal anterin kamu
pulang jam 9 teng..! ini udah jam 08.20”
“oh gitu…oke kalau gitu, aku juga harus menyelesaikan lembaran terakhir
laporanku”
“siaapp…! Kita pulang sekarang kalau gitu. Thank’s yah..udah mau nemenin
aku makan malam.”
“kamu bilang makasihnya sama mamaku saja, solanya mama tuh yang ngebujukin
aku sampai aku mau keluar sama kamu…hehehe”
“hehehe, kalau gitu kita beliin sesuatu yuk buat mama kamu, aku juga mau
beliin untuk mama aku”
“apa? Aku ada tempat beli martabak sepesial yang enak di depan sana” sambil
menunjuk ke
arah pertigaan jalan.
“oke…yuukkk”
Pukul Sembilan tepat kami sampai dirumahku dan disambut oleh mama dan papa,
kak Oliv lagi kerja laporannya dari kantor.
“om…tante…saya langsung pamit, sudah malam, mama udah menelpon tadi. Tapi
sebelumnya ini ada sedikit oleh-oleh, tadi Alya yang beliin untuk tante dan om.”
Sambil menyerahkan sekotak martabak yang kami beli tadi ke mama.
“oh iya nak…terimakasih yahhh…kamu hati-hati dijalan yah…salam untuk mama
papa kamu” seru mama dan papa hanya
memberi senyum pada Arya.
“InsyaAllah tante…Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam….”
Setelah acara makan malam itu, aku dan Arya jadi dekat
tapi tidak memiliki hubungan yang khusus. Aku sudah berkomitmen tidak akan
berpacaran dan hanya mau mengenal laki-laki yang berniat serius dan Arya pun
demikian, apalagi mamanya sudah memberikan lampu hijau untukknya membawa calon
pendampingnya untuk bertemu mama dan papanya. Kami selalu punya jadwal rutin
untuk ketemu dan ngobrol panjang diakhir pekan atau di hari Rabu. Kalau diakhir
pekan biasanya kami keluarnya dari sore dan seperti biasa jam 9 dia memastikan
aku sudah ada dirumah, tapi kalau hari Rabu biasanya kami hanya makan siang
saja. Setelah itu dia mengantarkanku pulang kerumah kalau tidak ada jadwal
ketemu dengan pembimbing skripsi dikampus. Banyak hal yang aku ketahui dan
pelajari sejak kenal dengan Arya, ternyata aku salah menilainya. Akupun mulai
belajar mengontrol emosiku dan selalu berpikiran positif menanggapi hal-hal
yang ada disekelilingku. Arya sering mengingatkan aku kalau aku kelepasan
bicara atau mengeluh, katanya seakan-akan tidak ikhlas melakukan sesuatu dan
nanti akhirnya yang didapat hanya capek saja, tidak ada keberkahan. Karena
tidak ikhlas. Dia selalu mengingatkanku dengan cara yang sangat baik dan tidak
terkesan menggurui.
Satu hal yang membuat aku kadang sangat gemas ingin
menjitak kepala Arya karena sifatnya yang sangat kaku dan tidak peka. Sama
seperti papaku. Dingin seperti gunug es. Kadang aku sudah bercerita panjang
lebar dia hanya tersenyum dan memberi tanggapan sekenanya saja. “yaaa aammmpuuunnn
seorang papaku saja sudah cukup…! Masa harus digenapkan menjadi dua sih?!” tapi
itu yang kadang membuatku merasa senang dengan dia. Begitu kakunya dia,
sampai-sampai dia tidak pernah menyapaku atau berbasa-basi menanyakan kabar
lewat pesan singkat padaku, dia hanya menelepon itupun untuk menanyakan soal
kegiatan rutin kami. “dasar BATU…!” umpatku sekali waktu. tapi aku tidak bisa
mengatakannya langsung padanya, aku hanya bisa menikmati seperti ini.
Arya adalah sosok yang sangat menyenangkan bagiku, dia
mengajarkan banyak hal padaku dengan caranya sendiri, menjagaku dan sangat
menghormati kedua orang tuaku dan juga kakakku Olivia, lucu juga sih kalau di
ingat-ingat waktu perkenalan pertamaku dengannya, aku sampaai harus menelan
kata-kataku yang dulu aku katakana sewaktu pertama bertemu dia “sumpah aku
tidak akan mau bertemu apa lagi kenal dengan orang seperti dia” sambil melempar
kartu namanya ke tong sampah (hehehe..kualat deh aku…). sekarang bukan hanya
dekat, malah sangat akrab dengan orang yang dulu sangat aku benci. Ternyata
memaafkan itu tidak susah kok, karena dengan memaafkan dan memberikan orang
lain kesempatan akan membuat kita lebih tenang, karena dihati kita tidak
dipenuhi lagi dengan rasa benci yang menyesakkan dada. Jadi jangan pernah kita
memelihara sifat dendam dalam diri, karena itu akan merusak hati kita, jika
hati kita yang rusak, maka rusaklah semuanya.
*special thank’s
for my mom, dad, my lovely sister dan Arya… ^_^*
_Miftah_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar